5 Tahun menggunakan Ubuntu Linux

Sekitar bulan juni, 5 tahun yang lalu, belum lama sejak ubuntu 6.06 dapper diluncurkan, saya membulatkan tekad untuk menggunakan ubuntu di notebook acer travelmate yang baru dibeli awal tahun 2006. Itu awal saya benar-benar menggunakan linux untuk bekerja dan digunakan sebagai operating system utama. Walaupun memang masih meninggalkan windows xp di komputer lain, yang masih kadang2 dipakai. Saat itu memang bukan pertama kali saya mencicipi linux.

8 atau 9 tahun sebelumnya sewaktu masih mahasiswa, dan menjadi asisten lab komputer, saya sempat mencicipi freebsd yang waktu itu menjadi sistem wajib di jaringan komputer kampus supaya bisa ngenet. Menginstall freebsd di komputer 386sx waktu itu merupakan awal perkenalan saya dengan dunia unix. Sejak itu di rumah sempat dual booting windows dengan red hat linux. Tapi waktu itu hanya sebatas nyoba, dan tidak pernah secara serius digunakan untuk dipakai sebagai OS sehari-hari.

Setelah meninggalkan dunia kampus, sejak itu praktis dunia linux saya tinggalkan. Bekerja di sebuah perusahaan di Bekasi 10 tahun yang lalu, semuanya menggunakan Windows. Selepas bekerja di Bekasi. Kembali kuliah S2 dan buka toko, linux hampir tak tersentuh. Hingga sekitar tahun 2005 dimana saya mencoba menggunakan coLinux di dalam sistem Windows saya untuk ujicoba sistem information system berbasis web untuk kebutuhan toko saya. Bersamaan dengan itu saya mencoba juga fedora, dan ubuntu 5.04. Tetapi itu juga sekedar coba dengan dual booting. Koneksi internet yang masih dial up, sedikit membuat saya malas. Karena setiap kali update harus nunggu lama, dan sangat memboroskan biaya telepon. Belum lagi bila tengah jalan disconnect.. Waduh.. Satu satunya jalan terakhir hanya menunggu cd infolinux terbaru. Akhirnya linux hanya diinstall tapi hanya sesekali dipakai kalo lagi iseng.

Baru sekitar bulan april 2006 di mana, internet adsl hadir di tempat saya, niat untuk menjadikan ubuntu linux sebagai sistem operasi untuk bekerja lebih besar. Setelah berkutat 3 bulan coba-coba dan dual booting. Bulan juli 2006, os windows di notebook acer saya pun dilibas, dan ubuntu menjadi os pilihan saya. Sambil jaga toko multi mekanik, yang masih cukup sepi. Saya utak atik ubuntu, kala itu masih ada beberapa hardware dari acer yg tidak berfungsi. Seperti microphone, modem, dan lampu indicator wifi, mungkin karena keterbatasan driver di kernel kala itu. Sejak saat itu saya sepertinya tak pernah lepas dari utak atik Ubuntu. Setelah launching Perkakasku.com di bulan mei 2007, kebiasaan utak atik sedikit berkurang karena fokus pada pengembangan website.

Tahun 2008 ketika Ubuntu meluncurkan Hardy Heron 8.04. Saya masih ragu untuk upgrade, pilihan menggunakan ubuntu 6.06 LTS, waktu itu memang karena merencanakan penggunaan yang lama. Hingga akhirnya baru coba upgrade di tahun 2009. Hasilnya cukup memuaskan, setidaknya lebih banyak hardware di komputer acer yg terdeteksi. Tahun 2010, ketika muncul 10.04 LTS. Saya tak ragu untuk langsung upgrade karena keberhasilan upgrade 8.04 tahun sebelumnya. Tapi karena kurang teliti, saya lupa membackup mysql. Hasilnya banyak karya-karya website saya yg belum terpublish hilang databasenya. Untung database terpenting seperti Perkakasku.com, masih tersimpan di server hosting. Tapi rencana renovasi website waktu itu jadi gagal total, karena memang database diubah cukup banyak.

Pada tahun 2010 saya juga menambah staff di toko, untuk membantu administrasi toko. Dan untuk mereka, saya siapkan komputer yg terinstall ubuntu 09.10. Pada awalnya mereka cukup kaget, apalagi salah satu dari staff ini agak kurang mahir dengan komputer. Tapi dalam sebulan dua bulan, saya perhatikan mereka sudah bisa mulai terbiasa dalam menggunakan ubuntu. Karena penggunaannya sendiri memang hanya seputar openoffice.

Tahun 2011, ketika Ubuntu meluncurkan 11.04, saya juga coba untuk ikut upgrade. Tetapi saat itu saya cukup kecewa dengan GUI terbaru Ubuntu Unity, karena perubahan yang terlalu drastis, sehingga akhirnya tetap menggunakan shell classicnya. Walaupun agak kecewa dengan versi terbaru, agak sulit untuk pindah dari Ubuntu, karena memang sudah terbiasa.

Pengalaman Upgrade Ubuntu Dapper ke Hardy

Setelah sekian lama berbetah-betah dengan Ubuntu Dapper, akhirnya saya gatel juga untuk meng-upgrade OS di notebook ini ke Ubuntu Hardy. Boleh dibilang memang agak terlambat, tetapi memang banyak pertimbangan yang membuat upgrade baru dapat dilakukan sekarang. Saat ini alasan utama upgrade adalah  karena software di Dapper sudah mulai ‘ketinggalan jaman’, dan software baru banyak yang tidak bisa diinstall, seperti  Firefox 3.

Metode upgrade yang saya pilih adalah  network upgrade, agak deg-degan memang karena takut sekali suatu saat listrik mati atau internet mati . Saya menghindari fresh install karena takut kerjaan terganggu, tetapi kalau upgrade sampai gagal memang mau tidak mau harus fresh install.

Proses dimulai tanggal 1 Maret 2009 jam 2 siang. Pertama-tama saya backup dulu seluruh isi harddisk  ke harddisk external. Selanjutnya di update dulu seluruh software ke yang terbaru. Selanjutnya barulah memulai proses upgrade tidak terlalu sulit memang, tetapi setiap langkah selalu saya lakukan secara hati-hati. Proses upgrade dari verifikasi, download, install, pembersihan hingga reboot berlangsung selama 22 jam.  Upgrade selesai keesokan harinya tanggal 2 Maret 2009 jam 12 siang.  Waktu yang cukup lama sekali.

Setelah upgrade ada beberapa hal yang saya temui, seperti kernel yang digunakan ternyata masih kernel yang saga gunakan pada dapper. Selama menggunakan dapper saya menggunakan kernel 2.6.17.11. Waktu itu memang di-compile sendiri, karena kernel bawaan dapper belum support soft-modem dan support sound card yang belum optimal di notebook ini.  Memang di satu sisi ini hal yang baik karena kernel yang sebelumnya sudah tidak ada masalah. Terutama untuk softmodem yang menggunakan driver linuxant, bila upgrade kernel berarti saya harus bayar lagi.  Di sisi lain saya sedikit kecewa karena hardware-hardware terbaru mungkin belum disupport oleh kernel lama. Tapi kondisi masih oke lah, tidak ada masalah.

Hal lain yang menjadi catatan adalah automounting dari USB drive / harddrive. Ketika memasukkan usb flash disk atau media penyimpanan yang berbasis USB lainnya, ada pesan error yaitu mounting error wrong fs, dll. Waduh.. bagaimana ini, saya sempat kecewa sekali. Googling di web banyak sekali solusi yang tidak membuahkan hasil.  Hingga akhirnya menemukan halaman ini dari ubuntuforums.org . Harus membaca forum itu hingga hampir habis baru ketemu solusinya. Ternyata permasalahannya ada pada option flush. Langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi-nya adalah menjalankan program gconf-editor. Pada program tersebut pilih system>storage>default_options>vfat hapus opsi flush. Setelah selesai, ternyata automount usb drive sudah kembali normal. Seladak selidik, ternyata opsi flush baru support di kernel 2.6.19. Jadi wajar saja bermasalah pada kernel 2.6.17.

Hal-hal lain yang masih sedikit mengganjal, yaitu pada file manager nautilus. Bila sebelumnya untuk mencari / memilih file saya tinggal mengetikkan nama file-nya langsung sekarang tidak tahu kenapa tidak bisa dilakukan lagi. Padahal pada komputer lain yang saya install blankon lontara, yang juga berbasis ubuntu hardy 8.04 bisa digunakan. Untuk hal ini belum ketemu solusinya. Ada juga pada pemilihan themes, preview themes pada bagian appearance tidak nongol.  ada juga boot splash yang tidak nongol. Tetapi untuk hal-hal ini saya tidak terlalu ambil pusing.

Sejauh ini selain kekurangan yang  saya ceritakan. Hasil akhir upgrade ke Ubuntu Hardy 8.04 cukup memuaskan, sehingga saya tidak menyesal telah mengupgrade :) . Bagi rekan pembaca yang punya solusi untuk masalah di atas tolong beritahu saya ya. Terima kasih sebelumnya.