Pengalaman di BOSS (Bandung One Stop Service)

Beberapa hari yang lalu, saya baru menyadari bahwa masa berlaku TDP (Tanda Daftar Perusahaan) toko saya, Multi Mekanik, telah lewat. Sebagai pelaku bisnis yang baik, tentunya saya harus segera memperpanjang TDP tersebut. Akhirnya saya mengumpulkan fotocopy berkas yang kiranya diperlukan seperti fotocopy SIUP, Ijin Gangguan, KTP, TDP Asli yang akan diperpanjang. Setelah kira-kira lengkap saya langsung menuju ke Kantor Pelayanan Perijinan di Bandung yang berjarak kurang lebih 500 meter dari toko saya ini.

Dalam perjalanan, saya masih terbayang apa yang pernah saya lakukan sekitar 2 tahun yang lalu ketika akan memperpanjang SIUP. Ketika itu masa berlaku SIUP memang belum habis-habis banget masih tersisa 2 bulan, datang 2 orang yang mengaku berasal dari pemkot untuk memeriksa kelengkapan surat-surat perijinan toko saya. Dalam pemeriksaaan, SIUP saya memang akan segera habis dan mereka menyarankan saya segera memperpanjangnya, dan mereka menawarkan bantuan untuk mengurusnya beserta besaran biaya pengurusannya. Dengan alasan memang belum habis banget, saya menolak halus tawaran mereka. Akhirnya mereka meninggalkan nomor telepon, dan juga persyaratan kelengkapan dokumen yang dibutuhkan. Sebenarnya alasan saya bukan hanya itu, saya takut mereka adalah oknum, yang bukannya mengurus, tapi malah bawa kabur duit saya. Karena saya memang punya pengalaman yang buruk ketika mempercayai oknum untuk mengurus pajak reklame toko saya beberapa tahun sebelumnya.

Beberapa hari kemudian akhirnya saya putuskan untuk memperpanjang SIUP, tetapi saya mencoba untuk melakukannya melalui jalur resmi. Ketika itu saya mendatangi kantor perijinan, dan menuju counter yang melayani perpanjangan SIUP. Saya dilayani oleh bapak-bapak yang kurang lebih berumur 40 tahunan. Saya berikan berkas-berkas yang sudah lengkap sesuai dengan persyaratan yang ditulis oleh bapak yang mendatangi toko saya beberapa hari sebelumnya (sebut saja bapak tsb bapak B). Lalu, ketika saya menanyakan prosedur perpanjangan SIUP, beliau melihat nama toko saya dan juga ada nomor telepon dari bapak B. Langsung saja dia menjawab, maaf pak langsung saja ke bapak B di ruangan xxx. Saya menjawab: “Pak, tolong diproses saja sesuai dengan jalur resmi. Jawaban dia malah mengecewakan saya, “Maaf pak, saya tidak berani melangkahi bapak B”, tak lama kemudian beliau menelepon bapak B, dan akhirnya bapak B muncul. Dengan ramah, beliau mengajak saya ke kantornya. Dan mulailah dilakukan ‘transaksi’, sulit sekali saya keluar dari jeratan ini, karena memang saya agak buta mengenai masalah perijinan. Setelah deal, dan saya membayarkan sejumlah uang yg disepakati, surat perpanjangan tersebut pun keluar beberapa hari kemudian.

Kembali ke masa sekarang, dalam perjalanan menuju kantor tersebut, bayang-bayang kemungkinan terulangnya kejadian itu tidak bisa saya hilangkan. Sehingga saya sudah siapkan mental untuk menghadapinya. Ketika masuk ke kompleks pemkot. Ternyata gedung tempat pengurusan ijin sudah dipindahkan ke gedung lain. Ketika saya memasuki gedung baru tersebut, saya sedikit terkejut. Suasananya mirip sekali suasana bank, desain interiornya sudah modern, jauh dari kesan perkantoran milik negara yang selama ini saya bayangkan. Counter-counter tempat pelayanan sangat mirip dengan counter customer service bank-bank besar. Begitu masuk saya bisa mengambil no antrian, dan terdapat pilihan untuk menuju counter yang sesuai dengan tujuan saya. Saya langsung menuju counter D, tempat pengurusan ijin yang berhubungan dengan usaha. Sambil berjalan ke sana, saya melihat hampir di setiap counter ada standing poster yang bertuliskan pelayanan apa saja yang dilayani oleh masing-masing counter beserta judul yang cukup besar BOSS (Bandung One Stop Service). Setelah menunggu antrian sebentar, saya diterima oleh anak-anak muda kurang lebih 20 tahunan. Dengan ramah mereka bertanya saya perlu mengurus perijinan apa. Lalu mereka menjelaskan apa saja yang diperlukan, dan saya menjawab akan mengurus perpanjangan TDP. Mereka lalu mengeluarkan formulir yang berkaitan, dan menjelaskan persyaratan yang dibutuhkan. Ketika itu saya tidak membawa fotocopy ijin gangguan. Sehingga terpaksa saya pulang kembali sambil membawa formulir untuk saya isi di rumah. Setelah semuanya saya lengkapi dan kembali ke sana, baru ketahuan kalo ternyata ijin gangguan juga habis :( . Akhirnya harus pulang lagi melengkapi persyaratan perpanjangan ijin gangguan seperti fotocopy IMB dan PBB. Betenya kenapa mereka tidak nerangin sekalian gitu. Sampai saya harus bolak balik. Walaupun dekat tapi 2 kali bolak balik berjalan kaki dengan sekali jalan 500 meter, lumaya melelahkan juga.

Keesokan harinya saya kembali lagi ke sana dengan membawa lengkap persyaratan yang diperlukan. Di Loket D tersebut, dokumen saya diperiksa kembali. Dan oleh yang menerima dibuatkan resi, tapi harus menunggu 1/2 jam karena yang nandatangan resi sedang tidak ada. Hmm.. sepertinya masih sedikit kurang profesional, masa yang tanda tangan resi harus satu orang, seharusnya kan bisa diwakilkan dengan atas nama. Tapi, ok 1/2 jam masih acceptable. Setelah menunggu dan resi bisa saya bawa. Proses dijanjikan selama 12 hari kerja, berarti sekitar 3 minggu donk, belum kepotong lebaran. Biaya perijinan tidak mereka beri tahukan karena khusus ijin gangguan perlu ada analisa mengenai indeks gangguan dan sebagainya. Sedangkan biaya pengurusan TDP kurang lebih Rp. 70.000,- dan semuanya dibayarkan nanti pada saat akan pengambilan dokumennya. Katanya pembayaran dilakukan langsung di loket Bank Jabar Banten yg juga berada di lokasi perijinan ini. Jadi tidak ada lagi pembayaran yang dilakukan kepada ‘oknum’.

Sejujurnya saya sangat salut dengan perubahan pelayanan perijinan seperti ini. Walaupun masih ada beberapa hal yang kurang memuaskan seperti kurangnya informasi mengenai kelengkapan dokumen sedari awal, dan resi yang hanya boleh ditandatangani 1 orang. Keseluruhan, saya anggap layanan dari BOSS sudah cukup memuaskan. Semoga pelayanan BOSS dapat semakin baik, sehingga dunia bisnis di Bandung dapat terhindar dari jeratan oknum-oknum yang lebih memikirkan keuntungan diri sendiri daripada pelayanan pada masyarakat.

Peluang Bisnis di Internet Sangat Besar

Indonesia dengan penduduk yang begitu banyak, dan juga perkembangan jangkauan internet-nya yang kian hari kian luas, merupakan pasar yang begitu besar. Kita seringkali mengeluhkan jaringan akses internet yang masih buruk akibat infrastruktur yang juga buruk, belum lagi biaya akses yang masih mahal, tapi perlahan tapi pasti perkembangan internet kita semakin baik. Juga walaupun tidak dipungkiri sekitar 80% pengakses internet masih berasal dari kota-kota besar, tapi makin lama pelosok-pelosok daerah mulai terjamah oleh akses internet. Semakin besar jangkauan akses internet di Indonesia, semakin besar pula lah peluang bisnis di Internet.

Berbagai produk dan jasa dapat dijadikan bisnis di Internet oleh siapa saja. Dulu banyak orang beranggapan bahwa berjualan di Internet hanya untuk barang-barang khas Indonesia untuk pasar luar negeri seperti barang-barang kerajinan atau barang-barang berbau IT. Tetapi saat ini, produk seperti kue, bunga, perkakas, mainan, kerajinan, dan lain-lain. Belum lagi jasa seperti perbankan, periklanan, konsultasi, dll. Semuanya dapat dilakukan melalui internet. Jangkauan target pasarnya pun tak perlu sampai ke luar negeri, bahkan untuk cakupan satu kota saja, kita bisa berbisnis lewat Internet.

Dalam dunia Internet, negara kita sering kali dikucilkan di mana banyak produk periklanan pay-per-click, pay-per-post, jasa pemprosesan kartu kredit, dan lain-lain tidak menyertakan Indonesia, atau sangat membatasi fitur untuk konsumen dari Indonesia. Hal itu memang bukan karena mereka mengganggap negara kita bukan pasar yang potensial. Tapi seringkali karena kasus yang sering dilakukan oleh oknum dari negara kita yang merasa ‘terlalu pintar’. Akibatnya merugikan rakyat Indonesia lainnya. Masih segar di ingatan saya mengenai kasus blacklist yang dilakukan oleh Paypal terhadap negara kita. Hingga akhirnya sekarang dibuka, tetapi tetap dengan fitur yang terbatas. Belum lagi pembatasan yang dilakukan google adsense untuk bahasa Indonesia, dan berbagai produk lainnya, yang begitu membatasi pengguna dari Indonesia.

Tetapi bagi beberapa orang hal ini justru merupaka peluang, karena bila perusahaan luar tidak mau menggarap pasar Indonesia. Kenapa tidak orang Indonesia sendiri yang menggarap. Pasar periklanan pay-per-click misalnya sudah banyak yang menggarap, jasa internet payment gateway juga sudah mulai ada yang menggarap, belum lagi produk-produk lainnya. Sehingga pembatasan tersebut sangat berguna untuk memancing jiwa wiraswasta dari bangsa Indonesia, tinggal siapa saja yang merasa terpanggil untuk mewujudkannya, bisa anda, saya atau siapa saja. Saya, dan tentunya anda beserta seluruh bangsa Indonesia, sangat berharap teknologi internet dapat meningkatkan kesejahteraan kita semua.

Nyaman dengan Ubuntu LTS

Hingga saat ini berarti sudah sekitar 2 tahun, notebook tercinta ini terinstall Ubuntu Dapper Drake 6.06 LTS, yang hingga saat ini tidak pernah saya upgrade ke versi baru. Dan selama ini saya memang merasa cukup puas, walaupun ada beberapa hal yang sedikit mengganjal. Saya cukup puas karena selama ini saya nyaris tak pernah mengalami masalah yang dapat menggangu pekerjaan saya dalam menggunakan notebook ini. Terasa sekali kinerja komputer ini tidak pernah berkurang, walaupun saya sering meng-install dan uninstall program. Berbeda sekali ketika masih menggunakan Windows yang bila sudah melewati 6 bulan pertama, kinerja-nya mulai sedikit berkurang walaupun update jalan terus. Apalagi kalau sudah sampai 2 tahun, pasti sudah tidak tahan pengen ngeformat dan install ulang.

Notebook yang menggunakan Ubuntu 6.06 LTS ini, selain saya gunakan sebagai komputer untuk melakukan pekerjaan administratif toko, editing gambar, game, juga saya gunakan development server dalam mengembangkan dan menguji coba Perkakasku.com. Sehingga sudah pasti terinstall apache, PHP, dan MySQL. Khusus program yang saya gunakan untuk pengembangan dalam bahasa PHP, saya cukup puas dengan menggunakan Bluefish, yang simple dan powerful. Semua program ini sudah berjasa membantu saya menciptakan Perkakasku.com.

Tapi itu semua bukan berarti linux tidak ada kekurangan. Dengan perkembangan linux yang cepat seperti saat ini, memang terasa sekali versi sebuah distro cepat sekali menjadi usang. Hal ini memang  saya rasakan, di mana setelah 2 tahun program-program di notebook ini sudah tidak dapat lagi menggunakan versi yang terbaru. Karena memang di linux, program dengan versi lebih baru, berarti membutuhkan library versi baru pula. Nah library versi baru seringkali mensyaratkan upgrade versi distro. Memang sebenarnya kan tinggal upgrade, apalagi dari 6.06 bisa langsung upgrade ke 8.04. Tapi bagi saya tidak se-simple itu, karena pertama, untuk upgrade berarti harus melewati internet yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi sekarang listrik masih suka padam, bisa-bisa ketika sedang update listrik mati dan ya tahu sendiri lah bagaimana hasilnya :) . Kedua, mengupgrade berarti saya harus bayar lagi untuk menggunakan driver modem linuxant, karena linuxant terikat pada kernel, sehingga setelah lebih dari 1 tahun, ganti kernel berarti bayar lagi :( . Saya memang sulit melepaskan diri dari driver linuxant ini karena driver ini saya gunakan untuk meng’hidup’kan fax, sehingga penerimaan fax tidak harus saya cetak lagi. Ketiga,  ditengah kesibukan toko, dan melayani konsumen di Perkakasku.com, memang sulit sekali untuk mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengoprek, karena saya membanyangkan banyak sekali yang harus dibereskan ketika selesai upgrade.  Belum lagi pasti gatal untuk menyoba hal-hal baru di OS baru. Solusi lain, seperti melakukan fresh install, sudah tak ada dalam pikiran saya, karena berarti akan sangat menggangu pekerjaan saya.

Kestabilan Ubuntu LTS, dengan janjinya, yang tetap menjamin kestabilan dan keamanan selama 3 tahun atau hingga 5 tahun untuk program yang berhubungan dengan server. Setidaknya membuat saya tenang dan nyaman dalam menggunakan notebook ini dalam pekerjaan saya. Setidaknya setelah 5 tahun, mungkin saya tidak lagi gatal untuk mengganti OS, tapi mungkin gatal untuk mengganti notebook :) Dengan demikian, saya patut berterima kasih pada komunitas open source yang telah tanpa pamrih menciptakan OS dan berbagai program yang telah membantu mengembangkan bisnis saya.

1 Hari Tanpa Speedy

Sebagai pengguna layanan Telkom Speedy, jelas saya sangat kecewa dengan putusnya jaringan internet ke luar negeri kemarin. Apalagi karena saya bergerak di bisnis online, dengan menggunakan server yang di luar negeri pula. Praktis saya hampir tidak bisa ngapa-ngapain secara online kemarin. Masih untung internet blackout-nya tidak seperti ketika putusnya kabel karena gempa di Taiwan di akhir tahun 2006 yang lalu, sehingga minimal jaringan yang tidak menggunakan telkom masih jalan. Saya menggunakan layanan data 3G dari XL sebagai backup, tapi tetap rasanya kurang maksimal karena saya masih kasihan sama handphone saya yang setengah jam saja sudah panas. Jadi layanan dari XL hanya saya gunakan untuk mengecek email dari konsumen, dan melakukan update status invoice, karena memang kemarin ada beberapa pengiriman.

Sebenarnya ini tidak perlu terjadi bila saya menggunakan server di dalam negeri. Jadi mengapa saya tidak menggunakan server di dalam negeri? Sebenarnya sebelum bulan september 2007 saya masih menggunakan server dalam negeri atau tepatnya yang ada di Telkom. Tetap saya lebih sering kecewanya dibandingkan puasnya. Beberapa kali layanan hosting dengan server di Telkom putus sambung, kata perusahaan web hostingnya sih memang jaringan di sana kurang bagus. Akhirnya setelah putus sambung beberapa kali, saya putuskan untuk memindahkannya ke server luar. Cari web hosting lain dengan server lokal, rata-rata memang menawarkan harga yang lebih mahal dibandingkan menggunakan server di luar negeri. Jadi jangan heran bila bandwith banyak terkuras ke luar negeri.

1 Hari tanpa Speedy sedikit mempengaruhi traffic pada Perkakasku.com, berdasarkan data dari awstat, pada hari kerja (senin – jumat) rata-rata traffic ke Perkakasku.com saat ini  sekitar 15000 hits per hari, khusus kemarin traffic-nya turun menjadi 9000-an hits. Tapi setidaknya masih lebih baik dibandingkan weekend (sabtu – minggu) yang rata-rata sekitar 7000 hits. Setidaknya saya masih bersyukur karena masalah dapat segera diatasi oleh Telkom. Tidak terbayang bila jaringan internet ke luar putus beberapa minggu, seperti ketika waktu gempa di Taiwan, berapa kerugian yang harus saya alami, padahal biaya internet dan hosting tetap harus dibayar, tidak bisa nunggak.

Harga Diri Blogger dan Indepedensi Komen

Rame-rame soal kisruh di blognya Pak Budi Rahardjo,  dibahas oleh Mas Priyadi dengan topik Independensi Blog. Hal ini sempat membuat saya senyum-senyum, selain memang saya sendiri merasa sebagai salah satu orang yang belakangan ini aktif memberikan komentar yang bersebrangan pada topik-topik postingan mas Priyadi, tapi memang tak terbayang seorang seperti Pak Budi bisa pecah juga emosinya karena hal ini :) . Blogger juga manusia, mereka juga punya harga diri, yang bila ada yang menginjak memang bisa marah juga. Tetapi apakah ini artinya tidak boleh ada orang yang bersebrangan pikiran dengannya?

Padahal bagi saya seharusnya tak masalah  memberi masukan pada empunya blog, walaupun mungkin dengan cara yang agak kurang baik. Apalagi bagi saya topik yang dijadikan masalah juga sebenarnya bukan topik yang serius-serius amat, seperti pada kasusnya pak Budi. Jadi sebenarnya agak kurang baik Pak Budi menumpahkan kekesalannya di depan umum, padahal dia bisa saja menyampaikannya melalui email ke ybs. Tapi saya lebih melihat ini sebagai suatu hal yang memang sangat mengganggu harga diri pak Budi, dan dia rasa perlu untuk menunjukkannya pada publik untuk tetap menjaga harga dirinya. But well saya sendiri memang tidak terlalu mengenal pak Budi selain dari tulisan-tulisan yang sering saya baca. Saya sendiri juga memang jarang komentar di blognya beliau.

Berkaitan dengan mas Priyadi, saya ngga tahu bagaimana sebenarnya reaksi di balik balasan komen-komen mas Priyadi. Bila saya perhatikan tak jarang komentar pedas yang berujung penyerangan personal pada Priyadi. Selalu ditanggapinya dengan saya tidak emosi kok dengan icon smiley, atau langsung memberikan referensi artikel mengenai tehnik berdebat pada wikipedia :) . Melihat tanggapan ini tersebut memang mengesankan Priyadi masih cukup tangguh. Saya memang pernah menyerang Priyadi, dengan komentar saya pada postingan Bedah Sistem MLM. Tetapi saya tidak tahu apakah  penyerangannya  bisa dikategorikan penyerangan personal, tetapi  saya memang tidak bermaksud demikian.  Pada topik yang banyak saya komentari yaitu pada ilusi finansial, saya berusaha melakukan debat yang lebih sehat. Tujuannya tak lebih menyampaikan unek-unek yang pada intinya memang bersebrangan dengan apa yang beliau tulis. Karena membaca sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangan saya, cukup membuat saya ‘gatal’ untuk menyampaikan pandangan saya.  Untuk membuat beliau berpikiran sama dengan saya ya jelas tak mungkin, karena memang sudut pandang kita berbeda. Satu hal bila dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda memang sulit untuk disamakan, tapi itu menunjukkan banyaknya perbedaan di dunia ini.

Indepedensi blog dan independensi komen harusnya merupakan 2 hal yang harus dihormati. Perbedaan tak bisa dihindari, tergantung bagaimana masing-masing pihak menyikapinya. Sesuatu yang dianggap benar oleh seorang penulis, dan dianggap salah oleh orang lain, memang bisa saja membuat harga diri penulis terganggu. Dan jelas hal ini harus ditanggapi dengan sebijaksana mungkin. Pernah juga baca komentar yang menyebutkan bila tidak berkenan kenapa tidak di delete saja komentar tersebut. Tapi menurut saya, komentar yang tak baik memang bisa saja di delete oleh empunya blog, tetapi selain bila itu merupakan spam, atau sesuatu yang sangat luar biasa,  apa bedanya itu dengan pen-’kebiri-an informasi.

Lebih Lanjut Tentang Bisnis MLM

Berbicara mengenai bisnis MLM, memang tidak akan ada habisnya. Seperti biasa persoalannya adalah adu argumen antara yang pro dan anti MLM. Yang diperdebatkan di sini apakah MLM itu adalah sebuah bisnis atau sebuah ‘penipuan’ yang diselubungi oleh bisnis? Di sini saya akan coba membahas dengan lebih baik, lebih terstruktur, selain juga merangkum beberapa komentar-komentar saya pada bedah sistem MLM di blog mas Priyadi.

Saya sendiri, seperti yang pernah saya bahas pada postingan sebelumnya dan komentar saya pada postingan blognya Priyadi, pernah mencicipi bagaimana rasanya ikut MLM dan sampai saat ini memang masih terdaftar sebagai IBO di salah satu perusahaan MLM.

Sekarang apakah MLM adalah bisnis, bisa saya jawab ya, secara detail sudah saya jelaskan pada postingan sebelumnya. Secara singkat bisa saya jelaskan karena MLM pada dasarnya adalah salah satu kendaraan bagi produsen untuk menjual barangnya untuk dapat dibeli dan dikonsumsi oleh target pasarnya, jalurnya sendiri mirip ada grosir dan pengecer. Perbedaannya dengan bisnis konvensional hanya pada keterikatannya pada jaringan. Pendapatan yang diperoleh dari MLM kurang lebih sama dengan bisnis konvensional. Bila dilihat pada MLM ada 3, pertama dari menjual secara retail, persentase discount untuk tingkat omzet tertetentu, bonus lain dari produsen.

Penjualan secara retail mempunyai margin yang jauh lebih besar, tetapi berjualan retail dalam MLM sama sekali tidak disarankan. Karena dengan demikian keunggulan dari MLM tidak dimanfaatkan. Selain itu sebagian besar distributor MLM bukanlah orang yang memiliki basis yang kuat untuk menjalankan bisnis. Hampir sebagian besar distributor berasal dari karyawan/wati, ibu rumah tangga, mahasiswa/i, unemployed. Memang tak jarang juga yang berasal dari pengusaha. Dengan demikian umumnya para distributor tidak akan kuat menghadapi iklim bisnis yang labil seperti terutama pada tahun-tahun pertamanya. Bila pada bulan awal mereka sukses menjual produk bulan depan belum tentu mereka dapat mendapatkan omzet yang sama, konsumen yang sebelumnya membeli pun bisa menolak untuk membeli dengan berbagai macam dalih, akhirnya bulan berikut bisa saja menjadi nol. Belum lagi harga produk MLM yang umumnya cukup tinggi dibandingkan produk di pasaran, walaupun memang dibantu dengan kualitas yang lebih baik, tetapi ini juga menjadi hambatan sulitnya produk tersebut untuk lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Mudahnya untuk menjadi distributor MLM, cukup dengan KTP dan biaya pendaftaran yang tidak terlalu besar, juga menjadi salah satu faktor sulitnya menjual produk MLM secara retail. Bisa dibayangkan ketika konsumen anda membeli produk dari anda dalam harga retail, tak lama berselang ada relasi dari konsumen tersebut yang mengajak nya untuk bergabung menjadi distributor dan dapat membeli produk dengan harga distributor. Umumnya MLM melarang distributor menjual produk dibawah dari harga retail yang disarankan, dengan sejumlah sanksinya, dengan demikian pada akhirnya mengajak konsumen untuk menjadi distributor adalah solusi yang tepat.

Dengan mengajak konsumen untuk menjadi distributor, ‘konsumen’ tersebut otomatis membeli dengan harga distributor. Dengan demikian dari mana anda mendapatkan keuntungan? Pada bisnis konvensional ketika anda membeli produk dengan jumlah banyak, biasanya anda akan mendapatkan harga khusus yang lebih murah. Hal serupa juga ada pada bisnis MLM, anda akan mendapatkan discount khusus bila anda melakukan pembelian dalam jumlah lebih banyak. Biasanya MLM memberlakukan beberapa peringkat discount atau komisi berdasarkan omzet. Dengan demikian anda mendapatkan keuntungan ketika tingkat omzet anda yang dijumlahkan dengan seluruh downline anda lebih tinggi daripada downline anda. Bila anda tidak bekerja dengan benar sangat mungkin peringkat komisi anda disaingi oleh downline anda, sehingga otomatis anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari downline anda tersebut. Kecuali bila baik anda maupun downline anda sama-sama memiliki peringkat tertinggi. Pada kondisi ini biasanya downline anda akan terlepas secara bisnis dari anda, tetapi produsen bisanya memberikan anda bonus atas keberhasilan anda mensukseskan downline anda tersebut.

Dengan menjalankan bisnis MLM tidak secara retail, keuntungan anda akan jauh lebih kecil. Karena anda hanya mengandalkan discount produk yang tidak terlalu besar biasanya hanya sekitar 3% dan akan meningkat seiring dengan semakin besarnya omzet anda. Tetapi yang pasti bisnis anda akan jauh lebih stabil, karena harga produk menjadi lebih murah untuk dibeli konsumen atau downline anda, dengan menjadi downline anda biasanya konsumen dapat menjadi lebih loyal dalam mengkonsumsi produk, sehingga dapat lebih sering terjadi repeat order, dan yang paling penting anda mendapatkan bantuan untuk menjual dan memperluas daerah penjualan anda. Berjualan secara sendirian tentunya akan jauh lebih sulit dibandingkan dengan bersama sekelompok orang yang membantu penjualan anda. Bila anda di Jakarta anda dapat berjualan di Bandung, Medan, Surabaya, Jayapura, dan tempat lainnya dengan bantuan relasi anda di tempat-tempat tersebut.

Melihat hal-hal yang saya jelaskan di atas seharusnya memang tidak terlalu sulit menjalankan bisnis MLM, tetapi memang banyak sekali hambatan karena presepsi masyarakat yang sudah sangat negatif terhadap bisnis ini. Sehingga penerimaan produk atau bisnis ini menjadi sulit sekali.

Presepsi MLM sama dengan money game atau arisan berantai sudah sangat melekat sekali, belum lagi modus penipuan dengan berlindung dibalik nama MLM. Melihat cara menjalankan bisnisnya memang terlihat mirip, tetapi ada beberapa hal yang harus dibedakan. MLM harus merupakan bisnis penjualan produk, dan produknya sendiri harus merupakan consumable goods atau produk yang dapat dikonsumsi secara berulang-ulang, selain itu keuntungan harus berasal dari keuntungan bisnis yang berasal dari discount produk berdasarkan peringkat omzet, bonus yang jelas peruntukannya atau dapat juga berdasarkan penjualan retail. Pada moneygame anda cukup membayar uang sekali, dan secara terus menerus anda akan mendapatkan ‘keuntungan’ dari uang para downline anda yang dibagi-bagi oleh upline anda.

Hambatan lain dalam menjalankan bisnis MLM adalah anggapan yang paling bawah pasti akan rugi. Dalam moneygame jelas terjadi kerugian karena pada peringkat terbawah tidak mendapatkan manfaat sama sekali dari uang yang ia berikan. Dalam MLM, bila anda memang berniat menjalankan bisnis dan tidak berhasil jelas sebagai yang terbawah anda rugi. Ini juga sama dengan bisnis konvensional ketika anda buka warung ternyata anda tidak dapat menjual, juga rantai terbawah (dari produsen, grosir, pengecer) jelas anda juga mengalami kerugian. Bila anda tidak berniat menjalankan bisnis, dengan demikian anda menjadi distributor atas manfaat untuk memperoleh harga distributo. Ini bukan kerugian karena anda mendapatkan manfaat dari penggunaan produk.

Bila melihat posting blognya Priyadi, hal yang selalu beliau kedepankan dan selalu dibesar-besarkan, dalam membuat pandangan terhadap MLM menjadi negatif, adalah masalah Market Saturation, setiap distributor selalu diberikan insentif untuk merekrut, tidak diberikannya data yang menunjang kepada distributor dalam mengembangkan pasarnya, dan harga produk yang tidak efisien akibat harus melalui jenjang distribusi yang cukup panjang. Bagi saya faktor-faktor yang dikedepankan oleh mas Priyadi ini bisa jadi juga mewakili kekhawatiran sebagian besar orang terhadap MLM. Untuk itu akan coba saya sanggah hal tersebut satu per satu.

Kondisi pasar yang saturated adalah kondisi di mana pasar sudah sedemikian sempit sehingga penambahan distributor lagi akan tidak menguntungkan distributor, terutama distributor baru. Market saturation juga akan terjadi pada semua jenis bisnis tak terkecuali MLM, sehingga market saturation bukan merupakan point yang patut dipermasalahkan dalam MLM.

Insentif dalam merekrut dalam arti untuk mengembangkan jaringan untuk meningkatkan omzet, sama dengan mencari konsumen sebanyak mungkin untuk membeli. Semakin banyak konsumen yang terekrut diharapkan dapat meningkatkan omzet, dengan demikian distributor harus dapat merekrut konsumen sebanyak mungkin untuk menjadi distributor, sama artinya juga dengan ketika anda buka warung anda akan berusaha menjaring konsumen sebanyak mungkin untuk membeli barang yang anda jajakan. Insentif untuk merekrut dalam kondisi pasar yang mendekati saturated jelas tidak menguntungkan, tetapi perlu diingat MLM tidak menjual barang dengan basis geografis. Dalam pengembangan pasar secara geografis jelas daerah yang sudah saturated tidak mungkin lagi dikembangkan, tetapi dalam MLM anda tidak terbatas oleh daerah geografis. Dengan jaringan relasi yang anda miliki anda masih memiliki potensi untuk menjual produk anda di luar daerah anda melalui relasi anda. Dengan demikian anda potensi untuk menjual tetap sangat besar.

MLM perlu dilihat sebagai bisnis pemasaran yang sangat mengandalkan relasi. Yang menjadi esensi dalam menjual produk MLM adalah relasi anda akan jauh lebih percaya untuk membeli produk yang baik dari anda dibandingkan dengan orang yang tidak dia kenal. Produk-produk MLM perlu pendekatan lebih personal agar pesan dari produsen mengenai manfaat produk dapat lebih mudah untuk disampaikan. Sehingga pendekatan yang personal ini lah yang sebenarnya dipegang oleh produsen dalam menjual produknya. Relasi dapat dari mana saja, keluarga, saudara, rekan sekolah / kuliah, rekan kerja, rekan kegiatan sosial, rekan kegiatan agama, dan lain-lain. Relasi ini jelas tidak terbatas oleh kondisi geografis. Anda dari kecil dan besar di Jakarta misalnya anda memiliki rekan sekolah yang sekarang bekerja di Timika, otomatis anda punya jaringan ke kota Timika. Atau anda dikirim oleh kantor anda ke Ambon untuk urusan bisnis, di sana anda dapat berkenalan dengan siapa saja yang bisa jadi menjadi mitra anda dalam MLM. Bila anda tidak memiliki relasi sama sekali di luar kota, relasi dari relasi anda pasti ada. Bagi saya cukup jelas bila potensi dari relasi jauh lebih besar dan menggiurkan dibandingkan dengan pasar yang hanya terbatas pada daerah geografis saja.

Dengan demikian data mengenai kondisi pasar di suatu daerah, siapa saja yang sudah menjadi distributor, kalaupun ada, saya rasa tidak lagi diperlukan. Data yang dapat anda tanyakan kepada orang yang merekrut anda bisa saja mengenai siapa saja rekan-rekan sekolah anda yang sudah join di bisnis ini, saya rasa orang yang merekrut anda biasanya punya dan tentunya tidak akan keberatan untuk berbagi mengenai hal ini.

Hambatan lain mengenai harga produk terlalu tinggi dan tidak efisien, harus dilihat dari berbagai faktor. Harga produk jelas harus sesuai dengan kualitas yang diberikan. Bila kualitas produk tidak sepadan dengan harga produk jelas produk tersebut tidak layak untuk dijual. Harga selain sebagai faktor untuk memberikan keuntungan pada produsen, juga salah satu faktor yang memposisikan barang tersebut. Produk dengan kelas premium jelas harus diberikan harga yang lebih tinggi dari produk sejenis agar sesuai dengan target pasar, bila tidak selain tidak menguntungkan produsen, target pasar bisa saja menyangsikan kualitas dari produk tersebut. Selain itu, bila anda tidak melihat jaringan berjenjang pada MLM ini sebagai suatu manfaat yang menguntungkan anda dalam memperoleh produk yang berkualitas, jelas itu menjadi sangat tidak efisien dan harga jelas akan menjadi terlalu mahal bagi anda. Penjualan barang melalui MLM merupakan salah satu jenis jalur pemasaran, dengan melalui MLM, produsen tidak perlu mengeluarkan atau mengurangi biaya dalam bentuk iklan. Sehingga porsi yang oleh perusahaan biasa dikeluarkan untuk biaya iklan, diubah menjadi komisi dan bonus untuk para distributornya.

Struktur MLM merupakan jaringan pemasaran yang terikat otomatis berbentuk piramida, ini tidak bisa diingkari karena memang demikian adanya. Tetapi bila hal ini dijadikan alasan untuk menyamakan MLM dengan moneygame yang juga berbentuk piramida, bagi saya ini bukan point yang tepat. Karena tujuannya sendiri berbeda MLM itu bisnis, money game itu permainan atau penipuan. MLM bisa saja menjadi kedok untuk penipuan, di sini yang perlu anda perhatikan adalah produknya dan telah berapa lama perusahaan itu berdiri. Banyak anggapan bahwa semakin lama MLM itu berdiri maka semakin sulit untuk menawarkan produk MLM tersebut, sedangkan semakin baru MLM, berarti semakin besar potensi pengembangan pasarnya. Bagi saya MLM yang telah lama berdiri membuktikan perusahaan tersebut telah mapan dan produknya telah dikenal dan dapat diterima pasar, dengan demikian penjualan produknya tidak akan terlalu sulit. Sebaliknya perusahaan MLM yang baru malah sulit untuk dikembangkan, karena produknya juga tidak jelas dan bisa saja merupakan kedok untuk penipuan. Walaupun memang tidak dapat disamakan semua perusahaan MLM baru seperti itu.

Tetapi dari sekian banyak kebaikan yang saya puji dan sekian banyak pandangan negatif yang saya sanggah, ada satu hal yang tetap mengganjal dan bagi saya sedikit mencoreng citra MLM sebagai sebuah bisnis. Bisnis MLM seharusnya berorientasi pada produk, sehingga memang yang kita lakukan adalah mencari konsumen untuk produk tersebut, yang sekaligus dapat direkrut untuk menjadi distributor. Yang sekarang banyak sekali dilakukan bukan lagi mencari konsumen tetapi mencari orang untuk direkrut, orang tersebut belum tentu merupakan konsumen. Ini memang tidak bertentangan dengan aturan yang ada, tetapi akibatnya yang dipromosikan justru hanya bisnisnya, produk hanya bumbunya. Bagi saya esensi dari MLM sebagai bisnis dalam hal ini menjadi hilang, orientasinya berubah menjadi mencari sales person untuk mencari sales person lagi, sukur-sukur dia mau beli produk tersebut. Training produk pada MLM bukannya tidak ada, tapi biasanya tidak menjadi fokus utama.

Dalam postingan komentar saya di blognya mas Priyadi, saya juga pernah menyebutkan bahwa ketika ikut MLM saya mencoba untuk ‘nyemplung’ dan berusaha mempelajari bisnis ini dari dalam. Oleh karena itu saya juga ikut juga mendaftarkan diri dalam perusahaan pendukung jaringan, yang menyediakan materi training dari kaset, VCD, training, dan seminar-seminar lainnya. Saya hanya menjadi ‘anggota’ dalam perusahaan ini sekitar selama beberapa bulan. Pengalaman saya selama menjadi anggota di sana akan saya ceritakan di sini.

Ketika pertama kali ditawarkan untuk menjadi anggota, yang ditanyakan adalah komitmen saya dalam bisnis. Apakah saya mau sukses? Ya jelas saya mau sukses, oleh karena itu saya harus mau mengikuti training seminggu sekali, seminar 1 bulan sekali, dan seminar nasional setengah tahun sekali. Dengan biaya yang harus dibayar saat itu juga, bila tidak pertemuan berikutnya akan selalu ada ajakan dengan sedikit ‘ancaman’ bila tidak ikut maka sulit sekali untuk sukses dan berbagai hal lainnya. Biayanya sangat mahal dan hingga ratusan ribu rupiah. Semua itu dilakukan oleh setiap upline yang saya temui. Selain itu saya juga ‘diwajibkan’ untuk berlangganan ‘majalah’ berupa kaset motivasi yang merupakan rekaman dari para IBO yang sukses. Isi kaset motivasi itu tidak jauh dari bagaimana sulitnya membangun bisnis, jatuh bangun, ditolak orang, dikecam oleh keluarga, hingga akhirnya bisa sukses. Kaset -kaset tersebut harus dibayar per bulan Dalam sebulan kita harus ‘makan’ habis seluruh kaset itu dan juga berbagai kaset pilihan lain yang ‘wajib’ beli. Akhirnya saya coba semua paket training dan kaset-kaset tersebut.

Setiap hari mencoba mendengarkan berbagai macam kaset memang cukup memotivasi, tetapi setelah beberapa bulan ‘eneg’ juga. Isinya memang tak jauh dari pengalaman orang-orang sukses. Tanpa disadari yang saya fokuskan adalah membeli kaset dan bukannya membeli produk. Yang saya tawarkan pada downline saya bukan membeli produk tapi membeli kaset motivasi dan tiket seminar. Terlihat sekali perbedaan orientasinya. Masalahnya adalah saya tidak akan mendapatkan keuntungan dari menjual kaset dan tiket seminar, yang saya dapatkan dengan mengajak orang ke seminar adalah tempat duduk VIP, badge, dan lain-lain. Apa yang dilakukan dalam tiap seminar, sebenarnya tidak jauh dari isi kaset motivasi, dan di dalam seminar tersebut kita juga diajak membeli kaset lagi dan terutama juga tiket seminar berikutnya. Akhirnya yang terjadi di sana orang bukan lagi menjual produk MLM, tapi jualan kaset dan tiket seminar. Setelah beberapa bulan menjadi anggota di perusahaan pendukung jaringan tersebut, saya memutuskan untuk keluar. Hal ini sendiri banyak dikecam oleh para upline dengan menanyakan kembali komitmen, akhirnya saya tetap pada pendirian saya untuk tidak berurusan lagi dengan semua kegiatan perusahaan pendukung jaringan tersebut.

Perusahan pendukung jaringan biasanya didirikan oleh para orang-orang sukses di perusahaan MLM tertentu, dengan tujuan membantu para distributor untuk dapat menjalankan bisnisnya dengan baik. Tetapi menurut saya, mereka melakukannya dengan cara yang kurang tepat, karena ini akhirnya menjadi bisnis sampingan atau mungkin bisnis utama dari mereka. Berapa besar omzet yang didapat dari penjualan tiket seminar dan kaset? Bila harga yang ditawarkan hanya untuk menutupi ongkos produksi, sebenarnya tak masalah. Tetapi dengan harga yang cukup mahal, bagi saya mereka mengeksploitasi keluguan para distributor yang sebagian besar sebenarnya mencoba untuk memperbaiki hidup mereka. Berapa besar uang yang masuk ke kantung para orang sukses tersebut dari mereka. Padahal uang tersebut dapat dipakai untuk biaya hidup mereka. Komitmen dalam bisnis ini menjadi sangat mahal dengan biaya yang bagi saya tak sepantasnya dikeluarkan. Bila para orang sukses tersebut memiliki komitmen yang baik, tak ada salahnya bila semua biaya training, seminar dan kaset tersebut mereka yang tanggung. Toh mereka tidak kekurangan uang, dan ini akan mengembalikan sebagian keuntungan yang mereka ambil dari para distributor di bawah.

Semua ini akhirnya yang membuat orang banyak cukup negatif terhadap bisnis, dengan demikian anda sebagai rantai terbawah lebih sulit mendapatkan keuntungan. Uang anda malah habis untuk memperkaya orang sukses. Untuk menjadi sukses anda harus lebih sabar, menghabiskan modal lebih daripada yang seharusnya, hingga keuntungan dari komisi yang anda peroleh dapat menutupi semua biaya tersebut. Memang ini butuh waktu, sekarang tinggal apakah anda memiliki modal yang cukup untuk itu? Terkadang peringkat omzet tertinggi pun belum tentu memiliki keuntungan yang seharusnya mereka peroleh, karena keuntungan mereka terkuras untuk perusahaan pendukung jaringan tersebut.

Perusahaan pendukung jaringan sebenarnya perusahaan terpisah dari perusahaan produsen MLM, tetapi tidak dipungkiri bila ada jajaran pemilik produsen MLM yang juga memiliki saham di perusahaan tersebut. Anda sebenarnya tidak wajib untuk bergabung dengan mereka, tetapi bila anda direkrut oleh lulusan mereka akan sulit sekali untuk melepaskan diri dari jeratan, karena semua rantai dari atas hingga bawah akan menjerat anda untuk mengikuti langkah yang selama ini mereka lakukan. Tetapi bila anda memiliki komitmen yang lebih kuat, anda bisa, orientasikan seluruhnya pada produk. Dan rekrutlah orang yang memang target pasar dari produk tersebut dan memiliki komitmen yang kuat juga untuk membangun pasar. Tak usah mempedulikan berapa besar keuntungan yang diperoleh upline dari anda. Itu adalah rejeki mereka, dan biarkanlah.

Akhir kata, banyaknya perusahaan yang berkedok MLM, money game, serta perusahaan pendukung jaringan yang ‘mengeksploitasi’ distributor akhirnya merusak citra bisnis MLM. Jadi apakah bisnis MLM tetap layak untuk dijalankan, boleh saya jawab ya. Secara bisnis MLM adalah bisnis yang baik, tetapi anda harus benar-benar memiliki komitmen yang kuat, buatlah jaringan pengguna yang kuat agar bisnis anda stabil. Pelajari produknya terlebih dahulu dengan baik, sehingga produk tersebut dapat memberikan manfaat yang baik pada konsumen atau downline anda. Tak usah bergabung dengan perusahaan pendukung jaringan, kecuali semua fasilitas training diberikan secara cuma-cuma. Atau setidaknya memberikan harga yang terjangkau, kecuali anda memang memiliki dana lebih.

Merging My English Blog

Several months ago, i tried to write a blog in English in this address http://handi.info.tm . The purpose of this blog was more to experiment, than to express my idea. I tried a free domain from afraid.org then tried free hostings like awardspace.com , freehostia.com, and lastly 000webhost.com. I also tried to use adsense on my english blog and other blog tools. But since i did not really focus on writing some good contents in the english blog, those tools was useless. Also, i could not add my website url handi.info.tm to Google and any other search engine, the domain seemed to be blocked, so search engine would not index the website. As a result, I did not have any good traffic to the website.

After focusing to write my blog in Bahasa Indonesia lately, i found that merging my english blog in here would be better. Since I have already focused in writing some good contents, and also i already have some small traffics. So it would not be a matter wether i wrote in English or Bahasa Indonesia.

Payment Gateway Indonesia

Berita Paypal yang sudah dapat withdraw di Indonesia melalui kartu kredit, benar-benar disambut dengan suka cita oleh para pebisnis online Indonesia. Bagaimana tidak, payment gateway adalah salah satu faktor penting untuk dapat memberikan kemudahan pada dan menarik pelanggan. Sebelum dibukanya akses withdraw untuk Indonesia, banyak yang ngakalin dengan berbagai macam cara untuk membuka rekening di luar negri, terutama di US atau Singapura. Setelah dibukanya akses withdraw, masih ada satu hal lagi yang ditunggu, yaitu agar dapat mencairkan dana paypal melalui bank-bank lokal di Indonesia. Kapan kah hal ini akan terjadi?

Perdagangan online di Indonesia, belum dianggap sebagai sesuatu hal yang menarik atau mungkin menguntungkan bagi bank-bank di Indonesia. Bahkan para pebisnis yang sudah memiliki merchant account dilarang untuk menggunakan merchant accountnya untuk perdagangan secara online di Internet. Hal itu tercantum dalam salah satu pasal perjanjian sewa EDC antara toko / showroom offline saya dengan salah satu bank. Ini jelas membuktikan bahwa pihak bank di Indonesia sendiri memang masih meragukan potensi perdagangan online. Walaupun demikian beberapa toko online sedikit mengakalinya dengan memboyong EDC-nya ke tempat konsumen ketika mengantarkan barang pesanannya. Cara tersebut memang sah-sah saja sih, tapi bagi saya hal tersebut sangat tidak praktis.

Pebisnis online di Indonesia selama ini mengandalkan media transfer dana. Umumnya bank yang digunakan sebagai rekening tujuan adalah bank-bank yang sudah memiliki fasilitas Internet Banking, seperti diantaranya adalah BCA, Mandiri, BII, BNI, Permata, Lippo. Ini sedikit merepotkan karena proses transaksi dan transfer merupakan 2 transaksi yang terpisah. Sehingga menjadi lebih lama dan kurang praktis, ini dapat saja membuat calon pelanggan berubah pikiran untuk mebatalkan transaksi, atau bisa saja konsumen dapat lupa untuk mentransfer. Selain itu mungkin saja pelanggan salah mencatat no rekening, sehingga akhirnya dana ditransfer pada orang yang salah. Itulah hal-hal yang dapat mengganggu proses transaksi online, yang dapat dikurangi dengan payment gateway.

Dengan Paypal, pebisnis online di Indonesia dapat sedikit terobati. Bila cakupan pelanggan kita adalah seluruh dunia, paypal jelas merupakan alat yang cukup mujarab. Tetapi bila cakupan penjualannya hanya untuk Indonesia saja atau harga modal produk yang kita tawarkan menggunakan rupiah, menurut saya paypal menjadi tidak begitu menarik. Hal ini karena semua transaksi harus dilakukan dalam mata uang US$. Selisih kurs jual dan beli dapat menjadi suatu biaya lagi, di luar biaya merchant yang biasanya sekitar 3% dan biaya per transaksi. Akibatnya harga jual produk menjadi kurang kompetitif atau keuntungan yang kita dapatkan menjadi kurang maksimal, dibandingkan bila menggunakan rupiah, belum lagi bila dipotong lagi dengan biaya withdraw ke kartu kredit. Selain itu juga masih sedikit orang Indonesia yang pe de untuk menggunakan kartu kredit untuk transaksi online.

Akhirnya banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Berapa lama kita harus menunggu Paypal untuk menyediakan full akses pada Indonesia, dan juga menyediakan rupiah sebagai salah satu mata uang yang dapat digunakan? Apakah kita harus tergantung dari paypal, sebuah perusahaan Amerika Serikat yang bukan bank?

Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan oleh para bank di Indonesia untuk memajukan perdagangan online di Indonesia. Salah satunya mungkin melobi paypal untuk dapat bekerja sama. Hal lainnya adalah menyediakan fasilitas payment gateway service sendiri. Mengapa tidak? Dengan menggunakan internet banking mereka, tidak akan terlalu sulit untuk membuat script yang memungkinkan pebisnis online mengintegrasikan shopping cart mereka dengan fasilitas internet banking. Dari segi keamanan sudah jelas aman karena selain adanya fasilitas SSL 128Bit, konsumen tinggal menggunakan fasilitas Key untuk lebih mengamankan transaksi mereka. Gitu aja kok repot? :) Hal ini jelas sangat praktis bagi pebisnis dan juga konsumen. Saya jamin deh bila ada bank yang menyediakan layanan seperti ini, bakalan diserbu rame-rame oleh para pebisnis online negeri ini.

Hidup E-Commerce Indonesia!

Who am I?

Hi, Welcome to my blog on IT and Marketing.
In this site i will try to share my thoughts, opinion, and methods on IT and Marketing. Who am I? Let me introduce myself first. I am Handi Limijaya (or Limidjaja in Indonesian old spelling), I have a big interest in computer since maybe 10 years old. I remember those old days where i was really interested in dBase III programming. My father was learning dBase III from scratch because he want to modify an inventory stock program he bought. I saw him learning every night when i was about to sleep, since our first computer (IBM PC XT) was in my room. Somehow i am interested in learning what he was doing. After that i learned dBase III programming from books my father bought. Since then i learned computer by myself. Continue reading

Banjir Jakarta

Banjir Jakarta yang terjadi sekitar 2 minggu yang lalu, mengingatkan saya pada banjir Jakarta pada tahun 2002. Saya bekerja di Bekasi dan tinggal di Jakarta pada sekitar tahun 2001 – 2002. Waktu itu saya tinggal di Sunter yang pada waktu itu kebetulan tidak banjir, padahal 5 tahun sebelumnya (1997) daerah itu terkena banjir. Untuk berangkat menuju Bekasi memang bisa melalui jalan Tol yang bebas banjir, tetapi untuk pulang dari Bekasi kembali ke Sunter, akses jalan Tol menuju ke arah Tanjung Priuk tergenang air sehingga tidak mungkin dilewati. Sedangkan untuk muter melalui Grogol mungkin baru besok nyampenya. Lewat jalur biasa sebagai orang Bandung yang belum hafal banget jalan Jakarta tentunya bukan merupakan hal yang mudah. Apalagi jalur yang biasa saya ambil melalui Kelapa Gading sudah tidak mungkin dilalui. Belum lagi kantor tempat saya bekerja juga kebanjiran, ada satu gedung bengkel terendam dan panel listrik juga terendam. Akhirnya yah tidak mungkin dapat bekerja dengan normal. Melihat kondisi banjir Jakarta tahun ini tampaknya lebih parah daripada 5 tahun yang lalu, untung saja saya sudah tidak lagi bekerja di Jakarta.