Pengalaman Upgrade Ubuntu Dapper ke Hardy

Setelah sekian lama berbetah-betah dengan Ubuntu Dapper, akhirnya saya gatel juga untuk meng-upgrade OS di notebook ini ke Ubuntu Hardy. Boleh dibilang memang agak terlambat, tetapi memang banyak pertimbangan yang membuat upgrade baru dapat dilakukan sekarang. Saat ini alasan utama upgrade adalah  karena software di Dapper sudah mulai ‘ketinggalan jaman’, dan software baru banyak yang tidak bisa diinstall, seperti  Firefox 3.

Metode upgrade yang saya pilih adalah  network upgrade, agak deg-degan memang karena takut sekali suatu saat listrik mati atau internet mati . Saya menghindari fresh install karena takut kerjaan terganggu, tetapi kalau upgrade sampai gagal memang mau tidak mau harus fresh install.

Proses dimulai tanggal 1 Maret 2009 jam 2 siang. Pertama-tama saya backup dulu seluruh isi harddisk  ke harddisk external. Selanjutnya di update dulu seluruh software ke yang terbaru. Selanjutnya barulah memulai proses upgrade tidak terlalu sulit memang, tetapi setiap langkah selalu saya lakukan secara hati-hati. Proses upgrade dari verifikasi, download, install, pembersihan hingga reboot berlangsung selama 22 jam.  Upgrade selesai keesokan harinya tanggal 2 Maret 2009 jam 12 siang.  Waktu yang cukup lama sekali.

Setelah upgrade ada beberapa hal yang saya temui, seperti kernel yang digunakan ternyata masih kernel yang saga gunakan pada dapper. Selama menggunakan dapper saya menggunakan kernel 2.6.17.11. Waktu itu memang di-compile sendiri, karena kernel bawaan dapper belum support soft-modem dan support sound card yang belum optimal di notebook ini.  Memang di satu sisi ini hal yang baik karena kernel yang sebelumnya sudah tidak ada masalah. Terutama untuk softmodem yang menggunakan driver linuxant, bila upgrade kernel berarti saya harus bayar lagi.  Di sisi lain saya sedikit kecewa karena hardware-hardware terbaru mungkin belum disupport oleh kernel lama. Tapi kondisi masih oke lah, tidak ada masalah.

Hal lain yang menjadi catatan adalah automounting dari USB drive / harddrive. Ketika memasukkan usb flash disk atau media penyimpanan yang berbasis USB lainnya, ada pesan error yaitu mounting error wrong fs, dll. Waduh.. bagaimana ini, saya sempat kecewa sekali. Googling di web banyak sekali solusi yang tidak membuahkan hasil.  Hingga akhirnya menemukan halaman ini dari ubuntuforums.org . Harus membaca forum itu hingga hampir habis baru ketemu solusinya. Ternyata permasalahannya ada pada option flush. Langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi-nya adalah menjalankan program gconf-editor. Pada program tersebut pilih system>storage>default_options>vfat hapus opsi flush. Setelah selesai, ternyata automount usb drive sudah kembali normal. Seladak selidik, ternyata opsi flush baru support di kernel 2.6.19. Jadi wajar saja bermasalah pada kernel 2.6.17.

Hal-hal lain yang masih sedikit mengganjal, yaitu pada file manager nautilus. Bila sebelumnya untuk mencari / memilih file saya tinggal mengetikkan nama file-nya langsung sekarang tidak tahu kenapa tidak bisa dilakukan lagi. Padahal pada komputer lain yang saya install blankon lontara, yang juga berbasis ubuntu hardy 8.04 bisa digunakan. Untuk hal ini belum ketemu solusinya. Ada juga pada pemilihan themes, preview themes pada bagian appearance tidak nongol.  ada juga boot splash yang tidak nongol. Tetapi untuk hal-hal ini saya tidak terlalu ambil pusing.

Sejauh ini selain kekurangan yang  saya ceritakan. Hasil akhir upgrade ke Ubuntu Hardy 8.04 cukup memuaskan, sehingga saya tidak menyesal telah mengupgrade :) . Bagi rekan pembaca yang punya solusi untuk masalah di atas tolong beritahu saya ya. Terima kasih sebelumnya.

Nyaman dengan Ubuntu LTS

Hingga saat ini berarti sudah sekitar 2 tahun, notebook tercinta ini terinstall Ubuntu Dapper Drake 6.06 LTS, yang hingga saat ini tidak pernah saya upgrade ke versi baru. Dan selama ini saya memang merasa cukup puas, walaupun ada beberapa hal yang sedikit mengganjal. Saya cukup puas karena selama ini saya nyaris tak pernah mengalami masalah yang dapat menggangu pekerjaan saya dalam menggunakan notebook ini. Terasa sekali kinerja komputer ini tidak pernah berkurang, walaupun saya sering meng-install dan uninstall program. Berbeda sekali ketika masih menggunakan Windows yang bila sudah melewati 6 bulan pertama, kinerja-nya mulai sedikit berkurang walaupun update jalan terus. Apalagi kalau sudah sampai 2 tahun, pasti sudah tidak tahan pengen ngeformat dan install ulang.

Notebook yang menggunakan Ubuntu 6.06 LTS ini, selain saya gunakan sebagai komputer untuk melakukan pekerjaan administratif toko, editing gambar, game, juga saya gunakan development server dalam mengembangkan dan menguji coba Perkakasku.com. Sehingga sudah pasti terinstall apache, PHP, dan MySQL. Khusus program yang saya gunakan untuk pengembangan dalam bahasa PHP, saya cukup puas dengan menggunakan Bluefish, yang simple dan powerful. Semua program ini sudah berjasa membantu saya menciptakan Perkakasku.com.

Tapi itu semua bukan berarti linux tidak ada kekurangan. Dengan perkembangan linux yang cepat seperti saat ini, memang terasa sekali versi sebuah distro cepat sekali menjadi usang. Hal ini memang  saya rasakan, di mana setelah 2 tahun program-program di notebook ini sudah tidak dapat lagi menggunakan versi yang terbaru. Karena memang di linux, program dengan versi lebih baru, berarti membutuhkan library versi baru pula. Nah library versi baru seringkali mensyaratkan upgrade versi distro. Memang sebenarnya kan tinggal upgrade, apalagi dari 6.06 bisa langsung upgrade ke 8.04. Tapi bagi saya tidak se-simple itu, karena pertama, untuk upgrade berarti harus melewati internet yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi sekarang listrik masih suka padam, bisa-bisa ketika sedang update listrik mati dan ya tahu sendiri lah bagaimana hasilnya :) . Kedua, mengupgrade berarti saya harus bayar lagi untuk menggunakan driver modem linuxant, karena linuxant terikat pada kernel, sehingga setelah lebih dari 1 tahun, ganti kernel berarti bayar lagi :( . Saya memang sulit melepaskan diri dari driver linuxant ini karena driver ini saya gunakan untuk meng’hidup’kan fax, sehingga penerimaan fax tidak harus saya cetak lagi. Ketiga,  ditengah kesibukan toko, dan melayani konsumen di Perkakasku.com, memang sulit sekali untuk mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengoprek, karena saya membanyangkan banyak sekali yang harus dibereskan ketika selesai upgrade.  Belum lagi pasti gatal untuk menyoba hal-hal baru di OS baru. Solusi lain, seperti melakukan fresh install, sudah tak ada dalam pikiran saya, karena berarti akan sangat menggangu pekerjaan saya.

Kestabilan Ubuntu LTS, dengan janjinya, yang tetap menjamin kestabilan dan keamanan selama 3 tahun atau hingga 5 tahun untuk program yang berhubungan dengan server. Setidaknya membuat saya tenang dan nyaman dalam menggunakan notebook ini dalam pekerjaan saya. Setidaknya setelah 5 tahun, mungkin saya tidak lagi gatal untuk mengganti OS, tapi mungkin gatal untuk mengganti notebook :) Dengan demikian, saya patut berterima kasih pada komunitas open source yang telah tanpa pamrih menciptakan OS dan berbagai program yang telah membantu mengembangkan bisnis saya.

Setahun dengan Linux

Ngga kerasa sudah setahun lebih saya menggunakan linux di notebook tercinta ku ini. Dulu waktu beli notebook ini sebenarnya sudah diniatin notebook ini bakal diinstall full linux. Tapi ternyata banyak kendalanya terutama sih karena modem internal ngga ke detect dan juga suaranya ngga jalan. Akhirnya notebook yang dibeli Januari 2006 ini diinstall OS yang haram deh.

Setelah hampir setengah tahun kemudian, saya niat nyoba lagi siapa tahu dengan kernel terbaru modem dan speakernya udah bisa jalan. Setelah pesanan free cd dari Ubuntu-nya sudah sampai di tangan, di coba lagi deh, pada awalnya sempet kecewa sih soalnya walaupun suara sudah terdengar tapi modemnya masih belum jalan juga. Apalagi walaupun saya sudah beli driver linuxant, ternyata masih belum jalan juga. Tetapi ternyata setelah tanya ke supportnya dan nunggu beberapa minggu, hingga keluar kernel yang waktu itu versi 2.6.17 baru lah ke luar versi driver modem yang cocok. Akhirnya belajarlah saya mengcompile kernel sendiri hingga modemnya bisa dipake. Waktu itu saya memang keukeuh modem di di notebook ini harus jalan, soalnya walaupun internetnya udah ngga pake modem itu lagi tapi tetep butuh supaya modem bisa jalan sebagai fax untuk kebutuhan toko. Kalo ngga masa sih harus beli mesin fax gara-gara mau pake linux. Sejak saat itu lah ubuntu linux menjadi OS yang tak pernah lepas dari notebook ini. Ngga kaya WinXP yang kayanya 4 bulan sekali butuh install ulang karena selain udah kena virus, atau kalau ngga lambat. Selama ini pake Ubuntu ngga pernah install ulang, kecuali karena waktu itu harus ganti harddisk karena harddisknya bermasalah. Tapi sejak itu pake Ubuntu saya sangat puas, apalagi toko online Perkakasku.com saya buat seluruhnya dengan program Bluefish di Ubuntu ini.

Ubuntu yang hingga saat ini saya pake masih yang versi 6.06 Dapper Drake, belum tergoda untuk upgrade ke 6.10 atau terbaru 7.04 Feisty Fawn soalnya support yang 6.06 lebih lama, dan saya memang udah males nih install-install lagi, soalnya takut pekerjaan saya malah jadi terganggu. Selama ngga ada masalah sih kayanya ngga akan upgrade dulu, ngga papa lah tertinggal fitur-fitur terbarunya, yang penting komputer saya jadi lebih stabil dan bebas virus.

Hidup Linux!