<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Curahan Pikiran Saya &#187; MLM</title>
	<atom:link href="http://handilim.web.id/category/mlm/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://handilim.web.id</link>
	<description>Segala hal yang ada di pikiran saya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Aug 2011 14:34:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Lebih Lanjut Tentang Bisnis MLM</title>
		<link>http://handilim.web.id/2008/01/25/lebih-lanjut-tentang-bisnis-mlm/</link>
		<comments>http://handilim.web.id/2008/01/25/lebih-lanjut-tentang-bisnis-mlm/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 15:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>han</dc:creator>
				<category><![CDATA[MLM]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handilim.web.id/2008/01/25/lebih-lanjut-tentang-bisnis-mlm/</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara mengenai bisnis MLM, memang tidak akan ada habisnya. Seperti biasa persoalannya adalah adu argumen antara yang pro dan anti MLM. Yang diperdebatkan di sini apakah MLM itu adalah sebuah bisnis atau sebuah &#8216;penipuan&#8217; yang diselubungi oleh bisnis? Di sini &#8230; <a href="http://handilim.web.id/2008/01/25/lebih-lanjut-tentang-bisnis-mlm/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara mengenai bisnis MLM, memang tidak akan ada habisnya. Seperti biasa persoalannya adalah adu argumen antara yang pro dan anti MLM. Yang diperdebatkan di sini apakah MLM itu adalah sebuah bisnis atau sebuah &#8216;penipuan&#8217; yang diselubungi oleh bisnis? Di sini saya akan coba membahas dengan lebih baik, lebih terstruktur, selain juga merangkum beberapa komentar-komentar saya pada <a title="Bedah Sistem MLM" href="http://priyadi.net/archives/2006/09/24/bedah-sistem-mlm/" target="_blank">bedah sistem MLM di blog mas Priyadi</a>.</p>
<p>Saya sendiri, seperti yang pernah saya bahas pada <a title="Tentang Bisnis MLM" href="http://handilim.web.id/2007/10/29/tentang-bisnis-mlm/" target="_blank">postingan sebelumnya</a> dan komentar saya pada postingan blognya Priyadi, pernah mencicipi bagaimana rasanya ikut MLM dan sampai saat ini memang masih terdaftar sebagai IBO di salah satu perusahaan MLM.</p>
<p>Sekarang apakah MLM adalah bisnis, bisa saya jawab ya, secara detail sudah saya jelaskan pada postingan sebelumnya. Secara singkat bisa saya jelaskan karena MLM pada dasarnya adalah salah satu kendaraan bagi produsen untuk menjual barangnya untuk dapat dibeli dan dikonsumsi oleh target pasarnya, jalurnya sendiri mirip ada grosir dan pengecer. Perbedaannya dengan bisnis konvensional hanya pada keterikatannya pada jaringan. Pendapatan yang diperoleh dari MLM kurang lebih sama dengan bisnis konvensional. Bila dilihat pada MLM  ada 3, pertama dari menjual secara retail, persentase discount untuk tingkat omzet tertetentu, bonus lain dari produsen.</p>
<p>Penjualan secara retail mempunyai margin yang jauh lebih besar, tetapi berjualan retail dalam MLM sama sekali tidak disarankan. Karena dengan demikian keunggulan dari MLM tidak dimanfaatkan. Selain itu sebagian besar distributor MLM bukanlah orang yang memiliki basis yang kuat untuk menjalankan bisnis. Hampir sebagian besar distributor berasal dari karyawan/wati, ibu rumah tangga, mahasiswa/i, unemployed. Memang tak jarang juga yang berasal dari pengusaha.  Dengan demikian umumnya para distributor tidak akan kuat menghadapi iklim bisnis yang labil seperti terutama pada tahun-tahun pertamanya. Bila pada bulan awal mereka sukses menjual produk bulan depan belum tentu mereka dapat mendapatkan omzet yang sama, konsumen yang sebelumnya membeli pun bisa menolak untuk membeli dengan berbagai macam dalih, akhirnya bulan berikut bisa saja menjadi nol. Belum lagi harga produk MLM yang umumnya cukup tinggi dibandingkan produk di pasaran, walaupun memang dibantu dengan kualitas yang lebih baik, tetapi ini juga menjadi hambatan sulitnya produk tersebut untuk lebih mudah diterima oleh masyarakat.</p>
<p>Mudahnya untuk menjadi distributor MLM, cukup dengan KTP dan biaya pendaftaran yang tidak terlalu besar, juga menjadi salah satu faktor sulitnya menjual produk MLM secara retail. Bisa dibayangkan ketika konsumen anda membeli produk dari anda dalam harga retail, tak lama berselang ada relasi dari konsumen tersebut yang mengajak nya untuk bergabung menjadi distributor dan dapat membeli produk dengan harga distributor. Umumnya MLM melarang distributor menjual produk dibawah dari harga retail yang disarankan, dengan sejumlah sanksinya, dengan demikian pada akhirnya mengajak konsumen untuk menjadi distributor adalah solusi yang tepat.</p>
<p>Dengan mengajak konsumen untuk menjadi distributor, &#8216;konsumen&#8217; tersebut otomatis membeli dengan harga distributor. Dengan demikian dari mana anda mendapatkan keuntungan? Pada bisnis konvensional ketika anda membeli produk dengan jumlah banyak, biasanya anda akan mendapatkan harga khusus yang lebih murah. Hal serupa juga ada pada bisnis MLM, anda akan mendapatkan discount khusus bila anda melakukan pembelian dalam jumlah lebih banyak. Biasanya MLM memberlakukan beberapa peringkat discount atau komisi berdasarkan omzet. Dengan demikian anda mendapatkan keuntungan ketika tingkat omzet anda yang dijumlahkan dengan seluruh downline anda lebih tinggi daripada  downline anda. Bila anda tidak bekerja dengan benar sangat mungkin peringkat komisi anda disaingi oleh downline anda, sehingga otomatis anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari downline anda tersebut. Kecuali bila baik anda maupun downline anda sama-sama memiliki peringkat tertinggi. Pada kondisi ini biasanya downline anda akan terlepas secara bisnis dari anda, tetapi produsen bisanya memberikan anda bonus atas keberhasilan anda mensukseskan downline anda tersebut.</p>
<p>Dengan menjalankan bisnis MLM tidak secara retail, keuntungan anda akan jauh lebih kecil. Karena anda hanya mengandalkan discount produk yang tidak terlalu besar biasanya hanya sekitar 3% dan akan meningkat seiring dengan semakin besarnya omzet anda. Tetapi yang pasti bisnis anda akan jauh lebih stabil, karena harga produk menjadi lebih murah untuk dibeli konsumen atau downline anda, dengan menjadi downline anda biasanya konsumen dapat menjadi lebih loyal dalam mengkonsumsi produk, sehingga dapat lebih sering terjadi repeat order, dan yang paling penting anda mendapatkan bantuan untuk menjual dan memperluas daerah penjualan anda. Berjualan secara sendirian tentunya akan jauh lebih sulit dibandingkan dengan bersama sekelompok orang yang membantu penjualan anda. Bila anda di Jakarta anda dapat berjualan di Bandung, Medan, Surabaya, Jayapura, dan tempat lainnya dengan bantuan relasi anda di tempat-tempat tersebut.</p>
<p>Melihat hal-hal yang saya jelaskan di atas seharusnya memang tidak terlalu sulit menjalankan bisnis MLM, tetapi memang banyak sekali hambatan karena presepsi masyarakat yang sudah sangat negatif terhadap bisnis ini. Sehingga penerimaan produk atau bisnis ini menjadi sulit sekali.</p>
<p>Presepsi MLM sama dengan money game atau arisan berantai sudah sangat melekat sekali, belum lagi modus penipuan dengan berlindung dibalik nama MLM. Melihat cara menjalankan bisnisnya memang terlihat mirip, tetapi ada beberapa hal yang harus dibedakan. MLM harus merupakan bisnis penjualan produk, dan produknya sendiri harus merupakan <em>consumable goods</em> atau produk yang dapat dikonsumsi secara berulang-ulang, selain itu keuntungan harus berasal dari keuntungan bisnis yang berasal dari discount produk berdasarkan peringkat omzet, bonus yang jelas peruntukannya atau dapat juga berdasarkan penjualan retail. Pada moneygame anda cukup membayar uang sekali, dan secara terus menerus anda akan mendapatkan &#8216;keuntungan&#8217; dari uang  para downline anda yang dibagi-bagi oleh upline anda.</p>
<p>Hambatan lain dalam menjalankan bisnis MLM adalah anggapan yang paling bawah pasti akan rugi. Dalam moneygame jelas terjadi kerugian karena pada peringkat terbawah tidak mendapatkan manfaat sama sekali dari uang yang ia berikan. Dalam MLM, bila anda memang berniat menjalankan bisnis dan tidak berhasil jelas sebagai yang terbawah anda rugi. Ini juga sama dengan bisnis konvensional ketika anda buka warung ternyata anda tidak dapat menjual, juga rantai terbawah (dari produsen, grosir, pengecer) jelas anda juga mengalami kerugian. Bila anda tidak berniat menjalankan bisnis, dengan demikian anda menjadi distributor atas manfaat untuk memperoleh harga distributo. Ini bukan kerugian karena anda mendapatkan manfaat dari penggunaan produk.</p>
<p>Bila melihat posting blognya Priyadi, hal yang selalu beliau kedepankan dan selalu dibesar-besarkan, dalam membuat pandangan terhadap MLM menjadi negatif, adalah masalah <em>Market Saturation</em>, setiap distributor selalu diberikan insentif untuk merekrut,  tidak diberikannya data yang menunjang kepada distributor dalam mengembangkan pasarnya, dan harga produk yang tidak efisien akibat harus melalui jenjang distribusi yang cukup panjang. Bagi saya faktor-faktor yang dikedepankan oleh mas Priyadi ini bisa jadi juga mewakili kekhawatiran sebagian besar orang terhadap MLM. Untuk itu akan coba saya sanggah hal tersebut satu per satu.</p>
<p>Kondisi pasar yang <em>saturated</em> adalah kondisi di mana pasar sudah sedemikian sempit sehingga penambahan distributor lagi akan tidak menguntungkan distributor, terutama distributor baru. <em>Market saturation</em> juga akan terjadi pada semua jenis bisnis tak terkecuali MLM, sehingga market saturation bukan merupakan point yang patut dipermasalahkan dalam MLM.</p>
<p>Insentif dalam merekrut dalam arti untuk mengembangkan jaringan untuk meningkatkan omzet, sama dengan mencari konsumen sebanyak mungkin untuk membeli. Semakin banyak konsumen yang terekrut diharapkan dapat meningkatkan omzet, dengan demikian distributor harus dapat merekrut konsumen sebanyak mungkin untuk menjadi distributor, sama artinya juga dengan ketika anda buka warung anda akan berusaha menjaring konsumen sebanyak mungkin untuk membeli barang yang anda jajakan. Insentif untuk merekrut dalam kondisi pasar yang mendekati saturated jelas tidak menguntungkan, tetapi perlu diingat MLM tidak menjual barang dengan basis geografis. Dalam pengembangan pasar secara geografis jelas daerah yang sudah saturated tidak mungkin lagi dikembangkan, tetapi dalam MLM anda tidak terbatas oleh daerah geografis. Dengan jaringan relasi yang anda miliki anda masih memiliki potensi untuk menjual produk anda di luar daerah anda melalui relasi anda. Dengan demikian anda potensi untuk menjual tetap sangat besar.</p>
<p>MLM perlu dilihat sebagai bisnis pemasaran yang sangat mengandalkan relasi. Yang menjadi esensi dalam menjual produk MLM adalah relasi anda akan jauh lebih percaya untuk membeli produk yang baik dari anda dibandingkan dengan orang yang tidak dia kenal. Produk-produk MLM perlu pendekatan lebih personal agar pesan dari produsen mengenai manfaat produk dapat lebih mudah untuk disampaikan.   Sehingga pendekatan yang personal ini lah yang sebenarnya dipegang oleh produsen dalam menjual produknya. Relasi dapat dari mana saja, keluarga, saudara, rekan sekolah / kuliah, rekan kerja, rekan kegiatan sosial, rekan kegiatan agama, dan lain-lain. Relasi ini jelas tidak terbatas oleh kondisi geografis. Anda dari kecil dan besar di Jakarta misalnya anda memiliki rekan sekolah yang sekarang bekerja di Timika, otomatis anda punya jaringan ke kota Timika. Atau anda dikirim oleh kantor anda ke Ambon untuk urusan bisnis, di sana anda dapat berkenalan dengan siapa saja yang bisa jadi menjadi mitra anda dalam MLM. Bila anda tidak memiliki relasi sama sekali di luar kota, relasi dari relasi anda pasti ada. Bagi saya cukup jelas bila potensi dari relasi jauh lebih besar dan menggiurkan dibandingkan dengan pasar yang hanya terbatas pada daerah geografis saja.</p>
<p>Dengan demikian data mengenai kondisi pasar di suatu daerah, siapa saja yang sudah menjadi distributor, kalaupun ada, saya rasa tidak lagi diperlukan. Data yang dapat anda tanyakan kepada orang yang merekrut anda bisa saja mengenai siapa saja rekan-rekan sekolah anda yang sudah join di bisnis ini, saya rasa orang yang merekrut anda biasanya punya dan tentunya tidak akan keberatan untuk berbagi mengenai hal ini.</p>
<p>Hambatan lain mengenai harga produk terlalu tinggi dan tidak efisien, harus dilihat dari berbagai faktor. Harga produk jelas harus sesuai dengan kualitas yang diberikan. Bila kualitas produk tidak sepadan dengan harga produk jelas produk tersebut tidak layak untuk dijual. Harga selain sebagai faktor untuk memberikan keuntungan pada produsen,  juga salah satu faktor yang memposisikan barang tersebut. Produk dengan kelas premium jelas harus diberikan harga yang lebih tinggi dari produk  sejenis agar sesuai dengan target pasar, bila tidak selain tidak menguntungkan produsen, target pasar bisa saja menyangsikan kualitas dari produk tersebut. Selain itu, bila anda tidak melihat jaringan berjenjang pada MLM ini sebagai suatu manfaat yang menguntungkan anda dalam memperoleh produk yang berkualitas, jelas itu menjadi sangat tidak efisien dan  harga jelas akan menjadi terlalu mahal bagi anda. Penjualan barang melalui MLM merupakan salah satu jenis jalur pemasaran, dengan melalui MLM, produsen tidak perlu mengeluarkan atau mengurangi biaya dalam bentuk iklan. Sehingga porsi yang oleh perusahaan biasa dikeluarkan untuk biaya iklan, diubah menjadi komisi dan bonus untuk para distributornya.</p>
<p>Struktur MLM merupakan jaringan pemasaran yang terikat otomatis berbentuk piramida, ini tidak bisa diingkari karena memang demikian adanya. Tetapi bila hal ini dijadikan alasan untuk menyamakan MLM dengan moneygame yang juga berbentuk piramida, bagi saya ini bukan point yang tepat. Karena tujuannya sendiri berbeda MLM itu bisnis, money game itu permainan atau penipuan. MLM bisa saja menjadi kedok untuk penipuan, di sini yang perlu anda perhatikan adalah produknya dan telah berapa lama perusahaan itu berdiri. Banyak anggapan bahwa semakin lama MLM itu berdiri maka semakin sulit untuk menawarkan produk MLM tersebut, sedangkan semakin baru MLM, berarti semakin besar potensi pengembangan pasarnya. Bagi saya MLM yang telah lama berdiri membuktikan perusahaan tersebut telah mapan dan produknya telah dikenal dan dapat diterima pasar, dengan demikian penjualan produknya tidak akan terlalu sulit. Sebaliknya perusahaan MLM yang baru malah sulit untuk dikembangkan, karena produknya juga tidak jelas dan bisa saja merupakan kedok untuk penipuan. Walaupun memang tidak dapat disamakan semua perusahaan MLM baru seperti itu.</p>
<p>Tetapi dari sekian banyak kebaikan yang saya puji dan sekian banyak pandangan negatif yang saya sanggah, ada satu hal yang tetap mengganjal dan bagi saya sedikit mencoreng citra MLM sebagai sebuah bisnis. Bisnis MLM seharusnya berorientasi pada produk, sehingga memang yang kita lakukan adalah mencari konsumen untuk produk tersebut, yang sekaligus dapat direkrut untuk menjadi distributor. Yang sekarang banyak sekali dilakukan bukan lagi mencari konsumen tetapi mencari orang untuk direkrut, orang tersebut belum tentu merupakan konsumen. Ini memang tidak bertentangan dengan aturan yang ada, tetapi akibatnya yang dipromosikan justru hanya bisnisnya, produk hanya bumbunya. Bagi saya esensi dari MLM sebagai bisnis dalam hal ini menjadi hilang, orientasinya berubah menjadi mencari sales person untuk mencari sales person lagi, sukur-sukur dia mau beli produk tersebut. Training produk pada MLM bukannya tidak ada, tapi biasanya tidak menjadi fokus utama.</p>
<p>Dalam postingan komentar saya di blognya mas Priyadi, saya juga pernah menyebutkan bahwa ketika ikut MLM saya mencoba untuk &#8216;nyemplung&#8217; dan berusaha mempelajari bisnis ini dari dalam. Oleh karena itu saya juga ikut juga mendaftarkan diri dalam perusahaan pendukung jaringan, yang menyediakan materi training dari kaset, VCD, training, dan seminar-seminar lainnya. Saya hanya menjadi &#8216;anggota&#8217; dalam perusahaan ini sekitar selama beberapa bulan. Pengalaman saya selama menjadi anggota di sana akan saya ceritakan di sini.</p>
<p>Ketika pertama kali ditawarkan untuk menjadi anggota, yang ditanyakan adalah komitmen saya dalam bisnis. Apakah saya mau sukses? Ya jelas saya mau sukses, oleh karena itu saya harus mau mengikuti training seminggu sekali, seminar 1 bulan sekali, dan seminar nasional setengah tahun sekali. Dengan biaya yang harus dibayar saat itu juga, bila tidak pertemuan berikutnya akan selalu ada ajakan dengan sedikit  &#8216;ancaman&#8217; bila tidak ikut maka sulit sekali untuk sukses dan berbagai hal lainnya. Biayanya sangat mahal dan hingga ratusan ribu rupiah. Semua itu dilakukan oleh setiap upline yang saya temui. Selain itu saya juga &#8216;diwajibkan&#8217; untuk berlangganan &#8216;majalah&#8217; berupa kaset motivasi yang merupakan rekaman dari para IBO yang sukses. Isi kaset motivasi itu tidak jauh dari bagaimana sulitnya membangun bisnis, jatuh bangun, ditolak orang, dikecam oleh keluarga, hingga akhirnya bisa sukses. Kaset -kaset tersebut harus dibayar per bulan Dalam sebulan kita harus &#8216;makan&#8217; habis seluruh kaset itu dan juga berbagai kaset pilihan lain yang &#8216;wajib&#8217; beli. Akhirnya saya coba semua paket training dan kaset-kaset tersebut.</p>
<p>Setiap hari mencoba mendengarkan berbagai macam kaset memang cukup memotivasi, tetapi setelah beberapa bulan &#8216;eneg&#8217; juga. Isinya memang tak jauh dari pengalaman orang-orang sukses. Tanpa disadari yang saya fokuskan adalah membeli kaset dan bukannya membeli produk. Yang saya tawarkan pada downline saya bukan membeli produk tapi membeli kaset motivasi dan tiket seminar. Terlihat sekali perbedaan orientasinya. Masalahnya adalah saya tidak akan mendapatkan keuntungan dari menjual kaset dan tiket seminar, yang saya dapatkan dengan mengajak orang ke seminar adalah tempat duduk VIP, badge, dan lain-lain. Apa yang dilakukan dalam tiap seminar, sebenarnya tidak jauh dari isi kaset motivasi, dan di dalam seminar tersebut kita juga diajak membeli kaset lagi dan terutama juga tiket seminar berikutnya. Akhirnya yang terjadi di sana orang bukan lagi menjual produk MLM, tapi jualan kaset dan tiket seminar. Setelah beberapa bulan menjadi anggota di perusahaan pendukung jaringan tersebut, saya memutuskan untuk keluar. Hal ini sendiri banyak dikecam oleh para upline dengan menanyakan kembali komitmen, akhirnya saya tetap pada pendirian saya untuk tidak berurusan lagi dengan semua kegiatan perusahaan pendukung jaringan tersebut.</p>
<p>Perusahan pendukung jaringan biasanya didirikan oleh para orang-orang sukses di perusahaan MLM tertentu, dengan tujuan membantu para distributor untuk dapat menjalankan bisnisnya dengan baik. Tetapi menurut saya, mereka melakukannya dengan cara yang kurang tepat, karena ini akhirnya menjadi bisnis sampingan atau mungkin bisnis utama dari mereka. Berapa besar omzet yang didapat dari penjualan tiket seminar dan kaset? Bila harga yang ditawarkan hanya untuk menutupi ongkos produksi, sebenarnya tak masalah. Tetapi dengan harga yang cukup mahal, bagi saya mereka mengeksploitasi keluguan para distributor yang sebagian besar sebenarnya mencoba untuk memperbaiki hidup mereka. Berapa besar uang yang masuk ke kantung para orang sukses tersebut dari mereka. Padahal uang tersebut dapat dipakai untuk biaya hidup mereka. Komitmen dalam bisnis ini menjadi sangat mahal dengan biaya yang bagi saya tak sepantasnya dikeluarkan. Bila para orang sukses tersebut memiliki komitmen yang baik, tak ada salahnya bila semua biaya training, seminar dan kaset tersebut mereka yang tanggung. Toh mereka tidak kekurangan uang, dan ini akan mengembalikan sebagian keuntungan yang mereka ambil dari para distributor di bawah.</p>
<p>Semua ini akhirnya yang membuat orang banyak cukup negatif terhadap bisnis, dengan demikian anda sebagai rantai terbawah lebih sulit mendapatkan keuntungan. Uang anda malah habis untuk memperkaya orang sukses. Untuk menjadi sukses anda harus lebih sabar, menghabiskan modal lebih daripada yang seharusnya, hingga keuntungan dari komisi yang anda peroleh dapat menutupi semua biaya tersebut. Memang ini butuh waktu, sekarang tinggal apakah anda memiliki modal yang cukup untuk itu? Terkadang peringkat omzet tertinggi pun belum tentu memiliki keuntungan yang seharusnya mereka peroleh, karena keuntungan mereka terkuras untuk perusahaan pendukung jaringan tersebut.</p>
<p>Perusahaan pendukung jaringan sebenarnya perusahaan terpisah dari perusahaan produsen MLM, tetapi tidak dipungkiri bila ada jajaran pemilik produsen MLM yang juga memiliki saham di perusahaan tersebut. Anda sebenarnya tidak wajib untuk bergabung dengan mereka, tetapi bila anda direkrut oleh lulusan mereka akan sulit sekali untuk melepaskan diri dari jeratan, karena semua rantai dari atas hingga bawah akan menjerat anda untuk mengikuti langkah yang selama ini mereka lakukan. Tetapi bila anda memiliki komitmen yang lebih kuat, anda bisa, orientasikan seluruhnya pada produk. Dan rekrutlah orang yang memang target pasar dari produk tersebut dan memiliki komitmen yang kuat juga untuk membangun pasar. Tak usah mempedulikan berapa besar keuntungan yang diperoleh upline dari anda. Itu adalah rejeki mereka, dan biarkanlah.</p>
<p>Akhir kata, banyaknya perusahaan yang berkedok MLM, money game, serta perusahaan pendukung jaringan yang &#8216;mengeksploitasi&#8217; distributor akhirnya merusak citra bisnis MLM. Jadi apakah bisnis MLM tetap layak untuk dijalankan, boleh saya jawab ya. Secara bisnis MLM adalah bisnis yang baik, tetapi anda harus benar-benar memiliki komitmen yang kuat, buatlah jaringan pengguna yang kuat agar bisnis anda stabil. Pelajari produknya terlebih dahulu dengan baik, sehingga produk tersebut dapat memberikan manfaat yang baik pada konsumen atau downline anda. Tak usah bergabung dengan perusahaan pendukung jaringan, kecuali semua fasilitas training diberikan secara cuma-cuma. Atau setidaknya memberikan harga yang terjangkau, kecuali anda memang memiliki dana lebih.</p>
<div class="al2fb_like_button"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=234954149860856&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:like href="http://handilim.web.id/2008/01/25/lebih-lanjut-tentang-bisnis-mlm/" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" font="arial" colorscheme="light" ref="AL2FB"></fb:like></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handilim.web.id/2008/01/25/lebih-lanjut-tentang-bisnis-mlm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Bisnis MLM</title>
		<link>http://handilim.web.id/2007/10/29/tentang-bisnis-mlm/</link>
		<comments>http://handilim.web.id/2007/10/29/tentang-bisnis-mlm/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 04:42:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>han</dc:creator>
				<category><![CDATA[MLM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handilim.web.id/2007/10/29/tentang-bisnis-mlm/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah mengikuti debat mengenai MLM di blognya mas Priyadi, seru juga perdebatan di situ. Saya juga mau sumbang pikiran mengenai MLM. Posting di bawah ini merupakan salinan komentar saya di blog mas Priyadi. MLM yang benar, menurut saya lho, murni &#8230; <a href="http://handilim.web.id/2007/10/29/tentang-bisnis-mlm/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah mengikuti debat mengenai MLM di <a title="Bedah Sistem MLM" href="http://priyadi.net/archives/2006/09/24/bedah-sistem-mlm/#comment-567573" target="_blank">blognya mas Priyadi</a>, seru juga perdebatan di situ. Saya juga mau sumbang pikiran mengenai MLM. Posting di bawah ini merupakan salinan komentar saya di blog mas Priyadi.</p>
<p>MLM yang benar, menurut saya lho, murni sebuah bisnis. Sistemnya yang digunakan ngga jauh kok dengan bisnis konvensional. Ada produsen, grosir, pengecer, konsumen. Kalo diberi gambaran ya seperti ini, konsumen ya konsumen pengguna produk yang bukan member, pengecer ya downline di tingkat paling bawah, baik yang aktif jualan atau tidak dan juga pengguna produk atau downline yang ngga bisa jualan atau ngga bisa merekrut, Grosir ya para distributor aktif yang memiliki downline, Produsen ya perusahaan MLM nya. Produk dari MLM umumnya produk yang eksklusif dan  sulit untuk dipasarkan dengan melalui jalur konvensional. Karena sulit, maka produk tersebut perlu dijual secara lebih personal atau dari mulut ke mulut maka dibentuklah sistem insentif untuk para grosir dan pengecer yang disebut sebagai MLM, mulai dengan keuntungan persentase kecil, hingga besar, insentif perjalanan ke luar negeri gratis, mobil, dan lain-lain. Sebenarnya sama saja kok dengan yang konvensional. That simple, ga ada yang salah kok dengan sistem MLM. Masalahnya hanya pada sulitnya menjual produk yang tidak ada di pasaran, dan tanggapan yang negatif dari orang-orang terhadap MLM. Distributor MLM adalah sebuah profesi atau pekerjaan, sama dengan pedagang, maka itu distributor MLM sering juga disebut sebaga IBO (independent bussiness owner). Bedanya pedagang konvensional kalo buka usaha harus pake SIUP, distributor MLM ngga usah. Di MLM, para distributor yang serius diberi bekal dengan serangakaian training (yang biasanya atas biaya si distributor sendiri), dalam training, seperti training-training lainnya, mereka melalui proses &#8216;brain wash&#8217; yang berarti kita harus tahu produk dan bagaimana bisnis tentunya mencintainya sampai mati. Ada juga penghargaan untuk distributor terbaik, sama seperti pekerjaan atau bisnis lainnya.</p>
<p>Perbedaan mendasar antara bisnis konvensional dan MLM adalah dalam keterikatan jaringan, dalam konvensional saya bebas memilih supplier atau grosir untuk produk yang sama. Bila supplier A menawarkan harga distributor yang lebih baik dari B, jelas saya akan memilih A, bahkan untuk menjadi grosir seperti A saya tidak tergantung dari A, saya bisa minta supplier dari A, untuk memberikan harga yang dia berikan pada si A, karena saya mampu memberikan omzet pada dia sama atau lebih besar dari si A, dan ini jelas tidak akan menguntungkan bagi si A.Pada MLM, hal tersebut tidak bisa dilakukan karena kita terikat pada jaringan yang sudah diprogram oleh produsen.<br />
Setiap pekerjaan atau profesi harus dijalankan dengan hati, bila hati kita senang dalam menjalankan profesi tentunya usaha kita sukses. Itu berlaku untuk semua orang, bila seorang programmer di suruh bekerja sebagai seorang sekretaris misalnya. Walaupun dia bisa, tapi dijamin ngga akan baik, walaupun dia telah melakukan serangakain training untuk menjadi seorang sekretaris yang handal tapi kalo hati dia ngga ada disitu yang percuma, karena dia lebih suka bekerja sebagai programmer. Sama juga dengan distributor MLM, yang cocok tentunya akan mencitai pekerjaannya sampai mati, sampai berbusa-busa untuk menawarkan produk dan peluang bisnisnya, ditolak pun semangatnya ngga akan kendur, itu semua karena hatinya memang disitu. Seorang distributor MLM yang baik memang harus begitu, kalau tidak begitu dijamin tidak akan sukses. Ada juga orang yang memang tidak cocok untuk menjadi distributor MLM, tapi kalau tidak dicoba orang tersebut ya tidak akan tahu kalo dia memang bisa.<br />
Saya sendiri seorang pedagang konvensional dan juga seorang distributor MLM. Saya pernah menjalani bisnis MLM tersebut tapi saya merasa hati saya tidak disitu, tapi setidaknya saya pernah mencoba. Jadi saya  memilih untuk hanya sebagai pengguna produknya saja, karena saya suka dengan produknya. Saya salut untuk orang-orang yang sukses menjalani bisnis MLM karena memang menjalani bisnis ini memang sulit.<br />
Semoga semua orang dapat open minded terhadap bisnis ini karena ini memang bisnis murni cuma bumbunya saja berbeda. Ga usah nyalahin para distributor MLM yang keukeuh mati-matian menawarkan dan juga membela sistem bisnis ini karena memang harus begitu kalo ingin sukses  menjalani bisnis itu. Tapi para distributor juga harus sedikit lebih toleran terhadap orang yang keukeuh menolak sistem MLM, karena memang ga semua orang itu cocok dengan bisnis seperti ini.</p>
<div class="al2fb_like_button"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=234954149860856&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:like href="http://handilim.web.id/2007/10/29/tentang-bisnis-mlm/" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" font="arial" colorscheme="light" ref="AL2FB"></fb:like></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handilim.web.id/2007/10/29/tentang-bisnis-mlm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

