Bingung Tidak Bisa Login ke Facebook

Beberapa hari ini saya bingung karena tidak bisa login ke facebook. Tadinya saya kira saya lupa password. Padahal bisa dibilang tiap hari login, jadi agak aneh juga bila sampai lupa password. Akhirnya saya coba untuk reset password. Jawaban dari sistem facebook cukup aneh, ‘Invalid E-Mail Address’. Memang email yang saya gunakan untuk facebook bukan email yang saya gunakan sehari-hari, dan menggunakan domain dari .co.cc . Akibatnya saya tidak  bisa login ke facebook hingga saat in, kecuali dari handphone karena di WAP Browser sessionnya masih tersimpan.

Saya coba untuk mengubah email dari  facebook mobile, tetapi tampaknya hal ini tidak bisa  dilakukan tanpa harus login ke facebook melalui komputer.
Karena email konfirmasi yang diterima mensyaratkan kita harus login terlebih dahulu. 2 hari yang lalu saya sudah coba menghubungi facebook melalui email, tapi hingga saat ini belum ada jawaban. Jadi terpaksa deh nge-facebook cuma lewat handphone doang. Ada yang punya solusi?

Pengalaman di BOSS (Bandung One Stop Service) – Bagian 2

Menyambung tulisan saya mengenai pengalaman di BOSS sebelumnya. Seharusnya ini saya ceritakan bulan lalu, tapi detail-detailnya saya masih ingat untuk diceritakan di sini. Sekitar tanggal 14 Oktober, saya menyempatkan diri untuk mengambil surat perijinan, yaitu ijin gangguan dan tanda daftar perusahaan, yang seharusnya sudah selesai perpanjangannya. Sekitar siang hari pukul 2 sore saya tiba di BOSS yang terletak di jalan Cianjur, Bandung ini dengan berjalan kaki. Lalu saya menuju loket A dan dengan tertib saya mengambil nomor antrian yang dibagikan oleh petugas, dengan sabar saya menunggu hingga nomor antrian saya dipanggil. Baru sekitar 45 menit kemudian saya dipanggil, karena memang kebetulan hari itu antrian cukup panjang. Setelah duduk berhadapan dengan ibu petugas yang melayani dan saya serahkan resi tanda terima permohonan perpanjangan kedua surat tersebut.
Sekitar 1 – 2 menit beliau mengecek permohonan saya di komputernya. Dengan dahi yang sedikit mengerenyit, beliau berujar, “Maaf Pak, suratnya belum selesai”. “Lho, kok bisa, kan sudah hampir 1 bulan”, saya menjawab. “Silahkan bapak tanyakan di loket B di seberang sana”, jawabnya lagi. Dengan sedikit kecewa, akhirnya saya berjalan menuju loket B, dan di terima dengan mbak, yang sedikit manis. Dengan sigap, mbak tersebut membawa resi saya ke dalam, dan tak lama kemudian muncul lagi, “mohon tunggu sebentar pak, sedang dicek”, katanya. Saya menunggu hampir 30 menit, sambil bolak balik bertanya “Bagaimana mbak?”. Setelah 30 menit baru si mbak ini masuk lagi ke dalam dan lalu saya lihat tahu-tahu nongol di loket seberang. Sedang menyelidiki ‘kasus’ saya dan juga beberapa warga lainnya. Lalu melalui telepon ke rekannya yang masih duduk di loket B, dia menyampaikan bahwa sebenarnya sudah selesai tapi belum ada di beri nomor, dan orang yang memberi nomor sedang entah ke mana. Dalam hati saya berujar, kenapa ngga ngomong, maaf suratnya keselip jadi belum selesai.?. Akhirnya saya menanyakan solusinya bagaimana, apakah saya besok datang lagi, atau bagaimana? Si mbak manis mengatakan bapak tinggalkan nomor telepon, nanti kita hubungi bila sudah selesai. Ok deh, resi saya bawa kembali. Dan dengan tersenyum masam saya mohon diri pada mbak-mbak di loket B ini. Akhirnya saya pulang dengan tangan hampa hari itu setelah menunggu hampir 2 jam. :(
Beberapa hari berlalu saya menantikan telepon dari mbak tersebut, hingga saya lupa, tahu-tahu sudah lewat seminggu. Akhirnya saya kembali datang ke BOSS, dan langsung menuju loket B. Saya lihat mbak manis masih di sana, dan saya langsung bertanya kepada mbak tersebut, “mbak surat di resi ini sudah selesai belum?”. Jawabnya “Bapak, langsung saja ke loket A”. “Lho, saya kan memastikan, supaya ngga usah ngantri lama-lama ternyata surat belum beres seperti minggu kemarin, lalu katanya minggu kemarin mau telepon bila sudah selesai”, jawab saya dengan nada sedikit tinggi. Tampaknya si mbak ini sudah lupa sama saya, ya :-D . Si mbak cuma jawab, “Nanti kalau di loket A, tidak ada baru ke sini lagi pak”, jawaban yang sangat mengecewakan. Kenapa ngga dicek dulu sebentar, supaya saya sebagai tidak menghabiskan waktu untuk menunggu, jadi saya mengulang pertanyaan saya lagi. Dan si mbak ini tampaknya tidak bergeming dan menjawab jawaban yang sama.
Ok deh, saya mengalah, saya menuju loket A, dan untungnya antrian tidak terlalu panjang, sehingga saya hanya menunggu sekitar 10 menit. Setelah diterima, ternyata surat perijinan saya sudah beres, dan langsung diproses untuk pembayaran dan pengambilan. Saya cek dulu, apakah surat perijinan yang akan saya terima sudah benar, memang ada sedikit kesalahan pada tanda terima, di mana nama perusahaan saya salah, tetapi untungnya di TDP aslinya nama perusahaan yang tertera benar. Lalu saya menunggu sebentar untuk diberikan kuitansi untuk melakukan pembayaran di loket Bank Jabar, yang terletak di sebelahnya. Setelah saya melakukan pembayaran, saya kembali ke loket tersebut, dan surat pun saya terima.
Berdasarkan pengalaman yang diceritakan di atas, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa pelayanan dari BOSS, memang masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Mungkin karena perubahan pelayanan perijinan ini belum terlalu lama, masih baru 2 bulan kalau tidak salah, sehingga petugas-petugas di sana masih belum terbiasa. Semoga dengan berjalannya waktu, pelayanan yang diberikan dapat lebih professional.

Hati-hati Withdraw Paypal dengan Business Account

Fasilitas withdraw dari Paypal telah dapat kita nikmati, transaksi dengan menggunakan paypal menjadi terasa lebih mudah dan aman. Sehingga bila kita memiliki bisnis di Internet, rasanya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengupgrade akun kita ke bussiness account. Karena dengan memiliki business account di Paypal, kita dapat menggunakan nama bisnis pada saat bertransaksi dengan pelanggan. Dengan menggunakan nama bisnis, transaksi kita akan lebih terasa professional. Karena nama bisnis kita juga tertera pada tagihan kartu kredit pelanggan kita. Selain itu kelebihan-kelebihan lainnya dapat anda lihat pada website paypal atau indonesiapal. Tetapi anda perlu berhati-hati ketika anda melakukan withdraw atau penarikan dana, karena aturan dari paypal untuk penarikan dana sangat ketat.

Berbeda dengan akun personal dan premier , pada akun bisnis identitas kita menggunakan nama perusahaan atau nama bisnis yang kita daftarkan. Hal ini bukan saja berlaku pada setiap transaksi tetapi juga pada saat penarikan dana. Kita harus mencermati hal ini, karena pada saat penarikan dana Paypal mewajibkan nama rekening penerima sama dengan nama yang digunakan pada Paypal. Dengan demikian nama pada rekening tujuan harus sama dengan nama bisnis yang kita daftarkan. Kesalahan akan hal ini dapat menyebabkan dana akan dikembalikan pada rekening kita di paypal dalam kondisi terpotong Rp. 50.000,- .

Saya sendiri baru menyadari hal ini ketika akan menarik sejumlah dana transaksi, yang telah lama saya endapkan di Paypal. Ketika mereview informasi penarikan sebelum diproses, saya menyadari bahwa nama pada “Bank account holder’s name”, bukan nama saya tetapi nama bisnis saya. Saya tidak berani melanjutkan proses karena paypal sendiri sudah mewanti-wanti hal ini. Seluruh opsi pada halaman profile sudah saya cari, ternyata nama bisnis tidak bisa kita ganti. Jadi kecuali saya memiliki rekening bank dengan nama bisnis saya, saya memerlukan cara lain untuk dapat menarik dana pada akun paypal bertipe bisnis ini.

Anda tentu saja dapat membelanjakan dana yang tersimpan pada merchant paypal. Atau dapat saja mengirimkan dana pada teman anda, dan meminta teman anda mentransfer ke rekening bank anda. Tetapi rasanya cara ini kurang praktis dan tentu saja sangat mengandalkan kepercayaan anda pada teman. Atau dapat juga menggunakan nama ayah, ibu, adik, kakak, om, tante, istri, anak, dll, tapi rasanya kurang praktis juga. Lalu saya mencoba membaca kembali user agreement pada paypal, dan pada bagian awal saya membaca pernyataan berikut ini :

Users may only hold one Personal account and either one Premier or one Business account.

Yang artinya kita diperbolehkan memiliki 1 akun personal dan 1 akun premier / bisnis. Jadi sebenarnya kita tinggal membuat 1 akun personal, dengan alamat email yang berbeda dan juga kartu kredit dan rekening bank yang berbeda. Dana yang ada pada akun bisnis, tinggal kita kirim ke akun personal, dan kita tarik dari akun personal ke rekening bank kita, yang tentunya namanya sama dengan nama rekening tujuan. Semoga membantu.

Punya Cabang di Jakarta?

Selama saya menjalankan Perkakasku.com, pertanyaan seperti judul di atas sering sekali saya terima setiap hari, entah melalui telepon, sms, atau YM. Tentu saja pertanyaan tersebut datang dari pengunjung asal Jakarta. Yang menjadi pertanyaan di sini apa sebenarnya yang menyebabkan mereka mengeluarkan pertanyaan tersebut?

Padahal pada bisnis online, posisi penjual sebenarnya tidak terlalu penting, karena dengan jarak Bandung dan Jakarta yang tidak terlalu jauh, biaya kirim sebenarnya sudah cukup murah. Dengan jasa kurir dari Bandung ke Jakarta yang sangat banyak dengan harga yang sangat bersaing, bahkan untuk kurir sekelas Tiki, sebenarnya biaya pengiriman masih terjangkau. Sebagai contoh biaya kirim sebuah mesin bor Bosch GBM350 dengan berat 2kg, hanya Rp. 9000,-. Andaikan saya memiliki cabang di Jakarta, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli langsung di tempat saya? Saya rasa belum tentu semurah itu. Sebaliknya dengan posisi saya di Jakarta, biaya antar ke lokasi di Jakarta sendiri juga bukan hal yang murah, berapa biaya bahan bakar yang harus di keluarkan, belum lagi waktu. Beberapa toko online dari Jakarta bahkan mencharge biaya yang lebih mahal untuk pengantaran melalui kurir mereka sendiri.

Tapi saya rasa tidak semua orang melihat faktor biaya untuk memperoleh barang (biaya kirim atau biaya pergi ke toko) ini. Saya lebih melihatnya sebagai memang masih banyak anggota masyarakat yang belum terbiasa berbelanja online. Sehingga membeli barang dari tempat yang lebih jauh tanpa pernah bertatap muka sama sekali adalah hal yang sangat luar biasa dan beresiko sangat besar.   Hal ini sangat saya maklumi, karena memang bisnis online di Indonesia masih belum membudaya. Belum lagi banyak cerita menyeramkan di mana banyak yang sudah membayar tetap barang tidak dikirim. Tapi ini bukan saja ketakutan dari pelanggan dari Jakarta saja, tetapi banyak pelanggan dari kota dan daerah lain. Untuk itu faktor kepercayaan sangat penting, untuk itu saya berusaha membangun kepercayaan ini dengan melayani pelanggan dengan sebaik mungkin.

Kalau boleh saya bandingkan, hampir sebagian besar pertanyaan apakah saya memiliki cabang di kota mereka memang berasal dari Jakarta sedangkan  yang berasal dari kota lain, seperti Surabaya, Semarang, Medan, Yogyakarta bisa dikatakan jarang. Mungkin saja ini adalah faktor Jakarta sebagai pusat bisnis terbesar di Indonesia. Semua bisnis online pun sepertinya harus berasal dari Jakarta atau minimal memliki cabang di Jakarta, sehingga adalah suatu keanehan bisnis online seperti saya berpusat di Bandung. Apakah memang semua bisnis online harus di Jakarta? Ada beberapa transaksi yang batal, terutama yang melalui YM, hanya karena belakangan mengetahui bahwa Perkakasku.com berasal dari Bandung ( padahal pada setiap bagian bawah halaman di Perkakasku.com tercantum jelas alamat toko saya ). Walaupun saya lihat itu hanya sebagian kecil saja dari banyak pelanggan Jakarta, tetapi kadang-kadang saya merasa dongkol sekali dengan tanggapan seperti itu. Bagaimanapun saya tetap menghormati mereka, karena bila pelayanan saya baik saya percaya di masa mendatang mereka dapat berbelanja di Perkakasku.com. Saya memang tidak akan berpikiran arogan bahwa saya tidak akan membuka perwakilan di Jakarta, karena bila pasar menuntut demikian saya harus bisa me-respond-nya. Tetapi melihat faktor-faktor di atas, saat ini rasanya dengan operasional berpusat di Bandung saja sudah cukup.

Pengalaman di BOSS (Bandung One Stop Service)

Beberapa hari yang lalu, saya baru menyadari bahwa masa berlaku TDP (Tanda Daftar Perusahaan) toko saya, Multi Mekanik, telah lewat. Sebagai pelaku bisnis yang baik, tentunya saya harus segera memperpanjang TDP tersebut. Akhirnya saya mengumpulkan fotocopy berkas yang kiranya diperlukan seperti fotocopy SIUP, Ijin Gangguan, KTP, TDP Asli yang akan diperpanjang. Setelah kira-kira lengkap saya langsung menuju ke Kantor Pelayanan Perijinan di Bandung yang berjarak kurang lebih 500 meter dari toko saya ini.

Dalam perjalanan, saya masih terbayang apa yang pernah saya lakukan sekitar 2 tahun yang lalu ketika akan memperpanjang SIUP. Ketika itu masa berlaku SIUP memang belum habis-habis banget masih tersisa 2 bulan, datang 2 orang yang mengaku berasal dari pemkot untuk memeriksa kelengkapan surat-surat perijinan toko saya. Dalam pemeriksaaan, SIUP saya memang akan segera habis dan mereka menyarankan saya segera memperpanjangnya, dan mereka menawarkan bantuan untuk mengurusnya beserta besaran biaya pengurusannya. Dengan alasan memang belum habis banget, saya menolak halus tawaran mereka. Akhirnya mereka meninggalkan nomor telepon, dan juga persyaratan kelengkapan dokumen yang dibutuhkan. Sebenarnya alasan saya bukan hanya itu, saya takut mereka adalah oknum, yang bukannya mengurus, tapi malah bawa kabur duit saya. Karena saya memang punya pengalaman yang buruk ketika mempercayai oknum untuk mengurus pajak reklame toko saya beberapa tahun sebelumnya.

Beberapa hari kemudian akhirnya saya putuskan untuk memperpanjang SIUP, tetapi saya mencoba untuk melakukannya melalui jalur resmi. Ketika itu saya mendatangi kantor perijinan, dan menuju counter yang melayani perpanjangan SIUP. Saya dilayani oleh bapak-bapak yang kurang lebih berumur 40 tahunan. Saya berikan berkas-berkas yang sudah lengkap sesuai dengan persyaratan yang ditulis oleh bapak yang mendatangi toko saya beberapa hari sebelumnya (sebut saja bapak tsb bapak B). Lalu, ketika saya menanyakan prosedur perpanjangan SIUP, beliau melihat nama toko saya dan juga ada nomor telepon dari bapak B. Langsung saja dia menjawab, maaf pak langsung saja ke bapak B di ruangan xxx. Saya menjawab: “Pak, tolong diproses saja sesuai dengan jalur resmi. Jawaban dia malah mengecewakan saya, “Maaf pak, saya tidak berani melangkahi bapak B”, tak lama kemudian beliau menelepon bapak B, dan akhirnya bapak B muncul. Dengan ramah, beliau mengajak saya ke kantornya. Dan mulailah dilakukan ‘transaksi’, sulit sekali saya keluar dari jeratan ini, karena memang saya agak buta mengenai masalah perijinan. Setelah deal, dan saya membayarkan sejumlah uang yg disepakati, surat perpanjangan tersebut pun keluar beberapa hari kemudian.

Kembali ke masa sekarang, dalam perjalanan menuju kantor tersebut, bayang-bayang kemungkinan terulangnya kejadian itu tidak bisa saya hilangkan. Sehingga saya sudah siapkan mental untuk menghadapinya. Ketika masuk ke kompleks pemkot. Ternyata gedung tempat pengurusan ijin sudah dipindahkan ke gedung lain. Ketika saya memasuki gedung baru tersebut, saya sedikit terkejut. Suasananya mirip sekali suasana bank, desain interiornya sudah modern, jauh dari kesan perkantoran milik negara yang selama ini saya bayangkan. Counter-counter tempat pelayanan sangat mirip dengan counter customer service bank-bank besar. Begitu masuk saya bisa mengambil no antrian, dan terdapat pilihan untuk menuju counter yang sesuai dengan tujuan saya. Saya langsung menuju counter D, tempat pengurusan ijin yang berhubungan dengan usaha. Sambil berjalan ke sana, saya melihat hampir di setiap counter ada standing poster yang bertuliskan pelayanan apa saja yang dilayani oleh masing-masing counter beserta judul yang cukup besar BOSS (Bandung One Stop Service). Setelah menunggu antrian sebentar, saya diterima oleh anak-anak muda kurang lebih 20 tahunan. Dengan ramah mereka bertanya saya perlu mengurus perijinan apa. Lalu mereka menjelaskan apa saja yang diperlukan, dan saya menjawab akan mengurus perpanjangan TDP. Mereka lalu mengeluarkan formulir yang berkaitan, dan menjelaskan persyaratan yang dibutuhkan. Ketika itu saya tidak membawa fotocopy ijin gangguan. Sehingga terpaksa saya pulang kembali sambil membawa formulir untuk saya isi di rumah. Setelah semuanya saya lengkapi dan kembali ke sana, baru ketahuan kalo ternyata ijin gangguan juga habis :( . Akhirnya harus pulang lagi melengkapi persyaratan perpanjangan ijin gangguan seperti fotocopy IMB dan PBB. Betenya kenapa mereka tidak nerangin sekalian gitu. Sampai saya harus bolak balik. Walaupun dekat tapi 2 kali bolak balik berjalan kaki dengan sekali jalan 500 meter, lumaya melelahkan juga.

Keesokan harinya saya kembali lagi ke sana dengan membawa lengkap persyaratan yang diperlukan. Di Loket D tersebut, dokumen saya diperiksa kembali. Dan oleh yang menerima dibuatkan resi, tapi harus menunggu 1/2 jam karena yang nandatangan resi sedang tidak ada. Hmm.. sepertinya masih sedikit kurang profesional, masa yang tanda tangan resi harus satu orang, seharusnya kan bisa diwakilkan dengan atas nama. Tapi, ok 1/2 jam masih acceptable. Setelah menunggu dan resi bisa saya bawa. Proses dijanjikan selama 12 hari kerja, berarti sekitar 3 minggu donk, belum kepotong lebaran. Biaya perijinan tidak mereka beri tahukan karena khusus ijin gangguan perlu ada analisa mengenai indeks gangguan dan sebagainya. Sedangkan biaya pengurusan TDP kurang lebih Rp. 70.000,- dan semuanya dibayarkan nanti pada saat akan pengambilan dokumennya. Katanya pembayaran dilakukan langsung di loket Bank Jabar Banten yg juga berada di lokasi perijinan ini. Jadi tidak ada lagi pembayaran yang dilakukan kepada ‘oknum’.

Sejujurnya saya sangat salut dengan perubahan pelayanan perijinan seperti ini. Walaupun masih ada beberapa hal yang kurang memuaskan seperti kurangnya informasi mengenai kelengkapan dokumen sedari awal, dan resi yang hanya boleh ditandatangani 1 orang. Keseluruhan, saya anggap layanan dari BOSS sudah cukup memuaskan. Semoga pelayanan BOSS dapat semakin baik, sehingga dunia bisnis di Bandung dapat terhindar dari jeratan oknum-oknum yang lebih memikirkan keuntungan diri sendiri daripada pelayanan pada masyarakat.

Peluang Bisnis di Internet Sangat Besar

Indonesia dengan penduduk yang begitu banyak, dan juga perkembangan jangkauan internet-nya yang kian hari kian luas, merupakan pasar yang begitu besar. Kita seringkali mengeluhkan jaringan akses internet yang masih buruk akibat infrastruktur yang juga buruk, belum lagi biaya akses yang masih mahal, tapi perlahan tapi pasti perkembangan internet kita semakin baik. Juga walaupun tidak dipungkiri sekitar 80% pengakses internet masih berasal dari kota-kota besar, tapi makin lama pelosok-pelosok daerah mulai terjamah oleh akses internet. Semakin besar jangkauan akses internet di Indonesia, semakin besar pula lah peluang bisnis di Internet.

Berbagai produk dan jasa dapat dijadikan bisnis di Internet oleh siapa saja. Dulu banyak orang beranggapan bahwa berjualan di Internet hanya untuk barang-barang khas Indonesia untuk pasar luar negeri seperti barang-barang kerajinan atau barang-barang berbau IT. Tetapi saat ini, produk seperti kue, bunga, perkakas, mainan, kerajinan, dan lain-lain. Belum lagi jasa seperti perbankan, periklanan, konsultasi, dll. Semuanya dapat dilakukan melalui internet. Jangkauan target pasarnya pun tak perlu sampai ke luar negeri, bahkan untuk cakupan satu kota saja, kita bisa berbisnis lewat Internet.

Dalam dunia Internet, negara kita sering kali dikucilkan di mana banyak produk periklanan pay-per-click, pay-per-post, jasa pemprosesan kartu kredit, dan lain-lain tidak menyertakan Indonesia, atau sangat membatasi fitur untuk konsumen dari Indonesia. Hal itu memang bukan karena mereka mengganggap negara kita bukan pasar yang potensial. Tapi seringkali karena kasus yang sering dilakukan oleh oknum dari negara kita yang merasa ‘terlalu pintar’. Akibatnya merugikan rakyat Indonesia lainnya. Masih segar di ingatan saya mengenai kasus blacklist yang dilakukan oleh Paypal terhadap negara kita. Hingga akhirnya sekarang dibuka, tetapi tetap dengan fitur yang terbatas. Belum lagi pembatasan yang dilakukan google adsense untuk bahasa Indonesia, dan berbagai produk lainnya, yang begitu membatasi pengguna dari Indonesia.

Tetapi bagi beberapa orang hal ini justru merupaka peluang, karena bila perusahaan luar tidak mau menggarap pasar Indonesia. Kenapa tidak orang Indonesia sendiri yang menggarap. Pasar periklanan pay-per-click misalnya sudah banyak yang menggarap, jasa internet payment gateway juga sudah mulai ada yang menggarap, belum lagi produk-produk lainnya. Sehingga pembatasan tersebut sangat berguna untuk memancing jiwa wiraswasta dari bangsa Indonesia, tinggal siapa saja yang merasa terpanggil untuk mewujudkannya, bisa anda, saya atau siapa saja. Saya, dan tentunya anda beserta seluruh bangsa Indonesia, sangat berharap teknologi internet dapat meningkatkan kesejahteraan kita semua.

Sinergi Toko Online dan Offline

Kemarin ini ketika saya sedang browsing, tak sengaja singgah di blognya pak Nukman Luthfie yang membahas tentang Toko Online Dorong Penjualan Offline. Dari judulnya saja saya sudah merasa ‘wah emang bener tuh’. Saya pribadi sangat merasakan peningkatan omzet yang signifikan di toko offline saya Multi Mekanik, terutama sejak awal tahun 2008 ini. Peningkatan ini sungguh di luar dugaan saya, Perkakasku.com memang mimpi saya sejak lama, tapi saya tak mengira bakal secepat itu. Keluarga dan rekan saya sendiri bahkan awalnya sempat meremehkan mimpi saya tersebut, tetapi sekarang berbalik mendukung.

Pada awal peluncuran Perkakasku.com, saya sempat dilanda kekhawatiran, bagaimana bila orang hanya melihat toko online saya sebagai perbandingan harga saja. Karena memang tak dipungkiri, dengan memperlihatkan harga di website, saya memulai genderang perang harga dengan toko offline yang lain. Karena harga saya cukup terbuka, dan mudah dibandingkan dan diadu. Tak jarang saya mendengar kabar dari rekan bisnis , bahwa ada orang yang datang membawa printout website saya untuk membandingkan harga di tokonya. Atau berujar ‘tuh di internet ada yang jual dengan harga sekian’. Ya, itu memang resiko, dan itu hak setiap orang untuk memilih di mana dia akan membelanjakan uangnya. Yang pasti saya tetap berusaha untuk tetap dapat menawarkan harga yang dapat bersaing secara wajar dan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin.

Dari pemantauan yang saya lakukan terhadap perilaku pelanggan yang datang ke toko offline. Sebagian besar orang yang datang ke toko offline saya yang berasal dari toko Online, sudah memiliki cukup informasi mengenai apa yang akan dia beli. Dan sebagian besar dari mereka sudah pasti deal untuk membeli barang di tempat saya. Tetapi banyak juga yang datang ke tempat saya hanya untuk memastikan bahwa Perkakasku.com itu benar-benar toko yang nyata juga, dan mereka baru datang lagi kemudian untuk bertransaksi. Jadi memang sudah terbukti bahwa toko online sungguh membantu peningkatan penjualan toko offline.

Sinergi toko online dan offline menurut saya memberikan kekuatan dalam penjualan. Sinergi ini dapat daya gambarkan sebagai berikut. Dengan toko offline, pelanggan tak ragu untuk datang memastikan barang yang akan dia beli, terkadang setelah mereka melihat barangnya mereka menjadi lebih yakin dengan barang yang akan mereka beli, atau memilih menggunakan tipe atau merk lain, dengan lebih yakin. Dengan toko offline, saya dapat menyediakan barang-barang dan seringkali saya mendapatkan harga terbaik dengan membeli barang dalam jumlah stock yang banyak. Dengan stock yang tersedia, saya dapat memberikan pelayanan yang terbaik karena barang dapat langsung dilihat dan dibawa pulang setelah transaksi. Untuk pelanggan di luar kota, Saya juga dapat memberikan pelayanan yang lebih cepat karena barang segera saya kirim begitu dana saya terima.

Dengan toko online saya mendapat pelanggan yang sebelumnya belum tentu bisa saya peroleh bila hanya mengandalkan orang yang lewat di depan toko. Tanpa toko online, belum tentu juga saya mendapatkan pelanggan yang terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk datang ke toko offline. Belum tentu saya mendapatkan pelanggan yang loyal dari luar kota, yang bahkan tak pernah saya temui sama sekali. Jadi sinergi toko online dan offline benar-benar pas untuk usaha saya.

BlankOn vs Fedora vs OpenSuse

Saya ada 1 buah komputer nganggur yang rencananya akan saya gunakan untuk keperluan administrasi toko. Komputer ini sebelumnya merupakan hibahan dari ortu yang memang sudah tidak terpakai. Awalnya komputer yang berspesifikasi processor AMD Duron 650 Mhz dan Harddisk 10GB ini akan saya gunakan untuk keperluan pameran yang saya ikuti di IBCC sekitar bulan November – Desember 2007 yang lalu. Saat itu mau tidak mau komputer tersebut memang perlu diupgrade karena memang pada waktu dihibahkan sudah tidak jalan. Akhirnya waktu itu saya upgrade ke processor dengan spesifikasi Celeron 1.6 GHz dengan motherboard Asus tipe GC-MX, memory 512MB. Untuk keperluan pameran waktu itu komputer saya installkan Xubuntu 7.10, dengan pertimbangan komputer ini memang hanya untuk memajang website Perkakasku.com. Sehingga pengunjung bisa mencoba website secara offline.

Setelah pameran berakhir komputer ini praktis tidak saya gunakan lagi. Hingga beberapa waktu belakangan ini di sela-sela kesibukan, saya berusaha menghidupkan komputer ini kembali. Berbekal dari bonus CD dari majalah Infolinux, saya mencoba memasang BlankOn “Lontara” Minimalis, Fedora 9, dan OpenSuse 11.0. Semuanya tidak saya install sekaligus tapi secara bergantian, dan digunakan untuk keperluan administrasi toko selama kurang lebih 2 hari. Semuanya digunakan dengan maksud untuk dapat berkoneksi dengan jaringan LAN yang telah ada, dan menggunakan printer HP Officejet 4355, untuk keperluan print, fax, copy, dan scan. Berikut ini saya ceritakan pengalaman dengan masing-masing OS.

BlankOn 3.0 “Lontara” Minimalis : Sekali coba sebenarnya saya sudah langsung jatuh cinta dengan OS ini. OS turunan dari Ubuntu ini langsung dapat mengenali semua hardware, berkoneksi dengan LAN, dan mengenali HP Officejet 4355, dan dapat menggunakan semua fiturnya (Print, Scan, dan Fax from PC), tanpa harus ngapa-ngapain lagi. Aksesnya cukup cepat karena memang OS ini didesain untuk komputer low-end. Saya dapat mengakses file dalam jaringan Windows dengan sempurna termasuk mengedit dan menyimpan dokumen yang tersimpan dalam jaringan. Kekurangannya hanya karena penggunaan software untuk officenya yaitu abiword dan gnumeric, yang terkadang kurang compatible dengan file dari Ms Word dan Excel. Tapi itu masih bisa dimaklumi.

Fedora 9, OS ini cukup baik dalam mengenali hardware yang ada, dapat mengakses jaringan LAN dengan baik pula. Tapi fedora tidak dapat mengenali fitur Fax from PC dari HP Officejet 4355. Semua paket yang berhubungan dengan HP LIP sudah terinstall dengan baik, dan sudah utak atik segalanya, dan cari info dari om google. Tapi saya tetap tidak dapat melakukan Fax From PC, akhirnya saya nyerah juga. Fitur ini termasuk yang penting karena banyak dokumen harus saya fax dari PC tanpa harus mencetaknya telebih dahulu. Lalu dalam mengakses file dalam jaringan Windows melalui Samba, saya sedikit kesulitan untuk mengedit dan menyimpan langsung dokumen yang tersimpan dalam jaringan. Kecuali disimpan dulu secara lokal disalin balik. Tapi rasanya cara ini cukup ribet. Dari segi kecepatan akses, memang agak lambat, tapi ini dimaklumi mengingat spesifikasi komputernya memang kurang memadai untuk OS seperti fedora 9. Mungkin harus didowngrade ke lite edition.

OpenSuse 11.0, sudah lama saya ingin sekali mencoba OS yang satu ini, dan baru sekarang saya punya kesempatan untuk mencobanya. Tapi sayang sekali setelah selesai menginstall ada masalah yang lansung muncul. OS ini tidak dapat menggunakan LAN yang sudah built-in pada motherboard komputer ini. Segala utak-atik sudah dilakukan tapi tidak berhasil, akhirnya saya nyerah juga :( . Mungkin ilmu ngoprek linux saya memang masih kurang. Karena LAN tidak jalan, saya kurang bersemangat untuk mencoba fitur yang lainnya.

Akhirnya pilihan OS untuk digunakan pada komputer ex-hibah ini jatuh pada BlankOn “Lontara” Minimalis. Walaupun ada beberapa kekurangan, tetapi OS ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya pada komputer ini yang tak lebih hanya untuk keperluan kantor biasa.

Nyaman dengan Ubuntu LTS

Hingga saat ini berarti sudah sekitar 2 tahun, notebook tercinta ini terinstall Ubuntu Dapper Drake 6.06 LTS, yang hingga saat ini tidak pernah saya upgrade ke versi baru. Dan selama ini saya memang merasa cukup puas, walaupun ada beberapa hal yang sedikit mengganjal. Saya cukup puas karena selama ini saya nyaris tak pernah mengalami masalah yang dapat menggangu pekerjaan saya dalam menggunakan notebook ini. Terasa sekali kinerja komputer ini tidak pernah berkurang, walaupun saya sering meng-install dan uninstall program. Berbeda sekali ketika masih menggunakan Windows yang bila sudah melewati 6 bulan pertama, kinerja-nya mulai sedikit berkurang walaupun update jalan terus. Apalagi kalau sudah sampai 2 tahun, pasti sudah tidak tahan pengen ngeformat dan install ulang.

Notebook yang menggunakan Ubuntu 6.06 LTS ini, selain saya gunakan sebagai komputer untuk melakukan pekerjaan administratif toko, editing gambar, game, juga saya gunakan development server dalam mengembangkan dan menguji coba Perkakasku.com. Sehingga sudah pasti terinstall apache, PHP, dan MySQL. Khusus program yang saya gunakan untuk pengembangan dalam bahasa PHP, saya cukup puas dengan menggunakan Bluefish, yang simple dan powerful. Semua program ini sudah berjasa membantu saya menciptakan Perkakasku.com.

Tapi itu semua bukan berarti linux tidak ada kekurangan. Dengan perkembangan linux yang cepat seperti saat ini, memang terasa sekali versi sebuah distro cepat sekali menjadi usang. Hal ini memang  saya rasakan, di mana setelah 2 tahun program-program di notebook ini sudah tidak dapat lagi menggunakan versi yang terbaru. Karena memang di linux, program dengan versi lebih baru, berarti membutuhkan library versi baru pula. Nah library versi baru seringkali mensyaratkan upgrade versi distro. Memang sebenarnya kan tinggal upgrade, apalagi dari 6.06 bisa langsung upgrade ke 8.04. Tapi bagi saya tidak se-simple itu, karena pertama, untuk upgrade berarti harus melewati internet yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi sekarang listrik masih suka padam, bisa-bisa ketika sedang update listrik mati dan ya tahu sendiri lah bagaimana hasilnya :) . Kedua, mengupgrade berarti saya harus bayar lagi untuk menggunakan driver modem linuxant, karena linuxant terikat pada kernel, sehingga setelah lebih dari 1 tahun, ganti kernel berarti bayar lagi :( . Saya memang sulit melepaskan diri dari driver linuxant ini karena driver ini saya gunakan untuk meng’hidup’kan fax, sehingga penerimaan fax tidak harus saya cetak lagi. Ketiga,  ditengah kesibukan toko, dan melayani konsumen di Perkakasku.com, memang sulit sekali untuk mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengoprek, karena saya membanyangkan banyak sekali yang harus dibereskan ketika selesai upgrade.  Belum lagi pasti gatal untuk menyoba hal-hal baru di OS baru. Solusi lain, seperti melakukan fresh install, sudah tak ada dalam pikiran saya, karena berarti akan sangat menggangu pekerjaan saya.

Kestabilan Ubuntu LTS, dengan janjinya, yang tetap menjamin kestabilan dan keamanan selama 3 tahun atau hingga 5 tahun untuk program yang berhubungan dengan server. Setidaknya membuat saya tenang dan nyaman dalam menggunakan notebook ini dalam pekerjaan saya. Setidaknya setelah 5 tahun, mungkin saya tidak lagi gatal untuk mengganti OS, tapi mungkin gatal untuk mengganti notebook :) Dengan demikian, saya patut berterima kasih pada komunitas open source yang telah tanpa pamrih menciptakan OS dan berbagai program yang telah membantu mengembangkan bisnis saya.

Testimonial Marketing

Testimonial, merujuk dari kamus cambridge, dapat berarti suatu pernyataan atau pengakuan terhadap seseorang atau sesuatu mengenai karakter atau kualitasnya. Testimonial ini seringkali digunakan sebagai salah satu bentuk iklan atau pemasaran. Penggunaan orang terkenal, seperti selebriti, olahragawan, dan lain-lain, yang memberi komentar mengenai suatu produk dan jasa selama ini memang dikenal cukup ampuh untuk menggugah target pasar untuk membeli produk atau jasa tersebut. Terkadang bukan saja orang terkenal yang digunakan, tetapi orang ‘biasa’ juga sering digunakan sebagai orang yang memberikan testimonial. Dengan testimonial, calon konsumen dibuat percaya bahwa produk atau jasa tersebut memang berkualitas baik atau setidaknya sesuai dengan pesan yang disampaikan.

Dalam dunia internet, testimonial juga digunakan sebagai cara yang dianggap ampuh untuk membuat pengunjung membeli produk atau layanannya. Penjualan melalui internet dengan target pasar Indonesia, memang susah – susah gampang. Sebagian besar orang Indonesia memang masih belum terbiasa berbelanja melalui internet, sehingga agar mau membeli, kita harus membuatnya percaya. Testimonial memang merupakan salah satu teknik dengan biaya yang rendah dan cukup efektif untuk membangun kepercayaan terhadap konsumen. Karena pada dunia internet, kita cukup minta konsumen menuliskan testimonial, lalu kita cantumkan, atau kita bisa juga ‘membantu’ untuk menuliskannya. Memang nyaris tanpa biaya, dan cukup cepat dalam memberikan kepercayaan pengunjung terhadap diri kita. Untuk itulah banyak pemilik website mendesain dan mengisi website-nya dengan testimonial untuk membujuk pengunjungnya agar membeli, karena produknya pernah memuaskan pengunjung lainnya. Saya percaya testimonial memang merupakan salah satu alat yang baik untuk tujuan tersebut, bila memang penggunaannya tepat.

Masalahnya banyak juga website yang kebablasan, mereka membombardir pengunjungnya dengan testimonial – testimonial, yang entah benar atau ternyata malah ‘buatan’ pemilik website belaka. Tanpa bermaksud mendiskreditkan pemilik website-website tersebut, saya melihat isi dan jumlah testimonial seringkali terlalu berlebihan. Bahkan saya pribadi tidak yakin apakah orang yang memberikan testimonial tersebut benar-benar ada atau tidak, karena saya memang tidak mengenal mereka. Sehingga masih sangat mungkin itu hanya akal-akalan saja, karena pada jaman sekarang apa saja bisa dibuat, testimonial kan tinggal ketik saja, foto tinggal catut sana sini. Berbeda bila orang yang memberikan testimonail adalah orang terkenal atau setidaknya pernah kita kenal, minimal kita bisa minta klarifikasi.

Tapi ini bukan berarti saya anti dengan testimonial, saya percaya masih banyak juga pemilik website yang jujur dengan testimonial pada websitenya. Karena pandangan pribadi terhadap testimonial seperti itu, saya masih sedikit ragu untuk menggunakan testimonial pada jualan online saya di Perkakasku.com. Bukan masalah keefektifan atau kesulitan menuliskan script program, bukan juga karena saya tidak bisa memberikan layanan yang memuaskan sehingga takut konsumen malah menulis sebaliknya. Tetapi bagi saya membangun kepercayaan terhadap konsumen untuk membeli, tidak selalu harus melalui testimonial yang tertulis di website. Kepercayaan tidak harus terbentuk secara instan, dengan memberikan pelayanan yang baik, saya percaya sedikit demi sedikit kepercayaan dapat dengan sendirinya terbangun. Testimonial akan terbentuk dengan sendirinya, mungkin tidak tertulis di website saya, tapi bisa melalui ucapan, e-mail, chatting, tulisan di forum-forum, dan lain-lain. Bagi saya bila hal seperti ini sudah terbentuk maka dasar kepercayaan yang dibangun akan lebih kuat.

Testimonial memang merupakan salah satu cara yang murah dan efektif untuk menjaring konsumen, tetapi sebagai pemilik website kita harus hati-hati dalam menggunakan testimonial, jangan terlalu berlebihan. Sebagai pengunjung, kita juga harus hati-hati dalam membaca testimonial, jangan terlalu mudah percaya, selalu percaya pada prinsip “If it is too good to be true, then it is not true.” Selidikilah dulu websitenya, coba cari di dulu pandangan orang lain di forum-forum atau melalui mesin pencari seperti google, yahoo, live, dan lain-lain. Dengan demikian kita punya informasi yang lebih lengkap dan kita dapat lebih yakin pada pilihan kita.