Kelabu di Bulan Agustus 2008 – Bagian 1
Bulan Agustus 2008, bulan yang tidak akan terlupakan dalam kehidupan saya. Itu bukan karena bulan Agustus adalah bulan kelahiran kedua putra kembar saya, bukan juga karena bulan kemerdekaan negara tercinta ini. Tetapi karena bulan tersebut saya menerima pengalaman yang pahit dalam berbisnis online. Kejadiannya memang sudah lama, tetapi baru dapat saya bagikan sekarang, karena sebelumnya masih menunggu proses yang dilakukan oleh pihak bank. Awal bulan maret 2009 ini, proses yang dinantikan baru selesai, tetapi baru saat ini saya dapat berbagi pengalaman ini.
Sedikit intermezzo, dalam menjalankan bisnis, kemudahan pembayaran merupakan salah satu hal yang krusial. Jangan sampai karena pembayaran yang menyulitkan, pelanggan sampai lepas. Hal ini berlaku juga pada bisnis online. Di Perkakasku.com, saya berusaha menawarkan solusi pembayaran yang lengkap, dengan membuka rekening di bank-bank terkemuka. Tetapi rasanya kurang lengkap bila tidak ada pembayaran melalui kartu kredit. Oleh karena itu saya tak ragu membuka pembayaran via Paypal. Tak lama kemudian saya bekerjasama dengan NSIA untuk menghadirkan layanan pembayaran kartu kredit dalam rupiah. Kerjasama ini juga melibatkan pihak bank, yaitu Bank BNI untuk kepentingan otorisasi kartu kredit, dan penampungan dana hasil transaksi.
Selama ini kerjasama dengan NSIA dan BNI berjalan cukup baik. Transaksi pembayaran diproses dengan baik dan dana hasil transaksi, beberapa hari kemudian dikreditkan di rekening saya di BNI. Hingga suatu hari di awal bulan agustus, ketika itu seorang pelanggan baru berbelanja sebuah mesin untuk dikirim ke Denpasar. Pelanggan tersebut menggunakan fasilitas pembayaran kartu kredit NSIAPay. Proses berjalan normal seperti biasa, invoice saya terima dengan keterangan pembayaran via NSIAPay. Saya cek di halaman administrasi Nsiapay, transaksi telah diotorisasi dengan baik. Barang segera saya siapkan, dan hari itu juga saya kirimkan. Beberapa hari kemudian dana hasil transaksi masuk ke rekening seperti biasa. Sekitar 1 minggu kemudian, beliau berbelanja kemudian diikuti juga dengan beberapa ‘temannya’ dengan alamat lain di kota Denpasar. Semua transaksi di pertengahan bulan Agustus tersebut begitu membabi buta, dan tanpa kecurigaan sedikitpun saya melayani transaksi-transakasi tersebut. Serupa dengan transaksi sebelumnya pembayaran menggunakan fasilitas payment gateway dari NSIAPay. Karena semua transaksi diotorisasi oleh Bank dengan baik maka saya segera memproses transaksi sebaik mungkin.
Sampai beberapa hari kemudian transaksi terus terjadi melalui NSIAPay dengan alamat tujuan ke Denpasar dan sebuah kota lain di utara Jawa Barat. Saya mulai sedikit curiga, saya lihat log transaksi di halaman admin NSIAPay, ternyata untuk mendapatkan otorisasi OK dari bank, si ‘pelanggan’ ini harus memasukkan kartu hingga 5 kali bahkan lebih. Saya cek ke support dari NSIAPay, tanggapannya adalah mereka tidak bisa memastikan itu transakasi fraud atau bukan, selama tidak ada komplain dari pemegang kartu. Saya berusaha membuang jauh-jauh tudingan pelanggan saya melakukan fraud. Akhirnya untuk memberikan pelayanan yang baik saya tetap mengirimkan pesanannya.
Sebelum hari libur kemerdekaan RI, transaksi – transaksi kartu kredit saya settle, dengan harapan pada hari kerja berikutnya dana telah masuk ke rekening. Tetapi 2 hari kemudian dana tak kunjung masuk ke rekening saya. Hingga pada tanggal 21 Agustus, saya menerima surat ‘cinta’ dari BNI, yang menjelaskan status transaksi-transaksi tersebut dalam status hold. Sontak saya stress berat, ternyata kecurigaan saya benar. Saya segera menghubungi semua perusahaan jasa pengiriman, kebetulan transaksi menggunakan jasa pengiriman yang berebeda-beda. Beberapa barang bisa ditahan dan saya minta dikirim kembali ke alamat saya, karena belum diantar, ada barang yang diambil oleh ‘pelanggan’ di kantor perwakilan denpasar karena memang sudah ada referensi nomor resi. Hari itu saya sungguh berterima kasih pada Tiki dan ESL Express yang cukup tanggap bekerja sama untuk membatalkan pengiriman. Bila dihitung saya bisa menyelamatkan 1/4 dari keseluruhan nilai transaksi. Keesokan harinya surat ‘cinta’ dari BNI datang lagi untuk informasi penahanan dana transaksi yang lain, yang memang tidak saya kirim.
Masalah tidak berhenti sampai sini, transaksi-transaksi lain beberapa hari kemudian, yang menurut saya bukan anggota komplotan tersebut, ikut-ikutan ditahan oleh BNI. Ini membuat saya cukup stress.. karena kerugian bukan saja dari transaksi dari komplotan itu saja, tapi dari transaksi-transaksi lain yang tidak ada hubungannya. Akhirnya saya putuskan untuk menghentikan sementara layanan NSIAPay selama beberapa bulan.
Kerugian akibat kasus ini lumayan besar, sekitar 8 digit. Nilai yang cukup mengganggu bisnis yang sedang berkembang ini. Saya sempat stress selama beberapa hari, tetapi ini tidak boleh membuat gentar untuk berbisnis online. Hal ini saya jadikan pengalaman yang sangat mahal untuk membuat saya jauh lebih hati-hati. Tetapi cerita pengalaman belum berhenti di sini, masih ada pengalaman mengenai bagaimana penyelesaian kasus ini. Itu akan saya ceritakan di bagian selanjutnya.
Nama saya Handi Limidjaja. Saya lahir dan besar di Bandung, sempat juga tinggal di Jakarta selama 1 tahun dan 5 bulan di Beijing. Saya adalah seorang lulusan Teknik Industri dan Magister Manajemen dari salah universitas swasta di Bandung, walaupun demikian sejak kecil saya memiliki minat yang sangat besar pada bidang IT, terutama programming. Sekarang ini saya buka warung yang berjualan perkakas di Bandung, yang juga jualan secara online di
1 Comment
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]