Rame-rame soal kisruh di blognya Pak Budi Rahardjo, dibahas oleh Mas Priyadi dengan topik Independensi Blog. Hal ini sempat membuat saya senyum-senyum, selain memang saya sendiri merasa sebagai salah satu orang yang belakangan ini aktif memberikan komentar yang bersebrangan pada topik-topik postingan mas Priyadi, tapi memang tak terbayang seorang seperti Pak Budi bisa pecah juga emosinya karena hal ini
. Blogger juga manusia, mereka juga punya harga diri, yang bila ada yang menginjak memang bisa marah juga. Tetapi apakah ini artinya tidak boleh ada orang yang bersebrangan pikiran dengannya?
Padahal bagi saya seharusnya tak masalah memberi masukan pada empunya blog, walaupun mungkin dengan cara yang agak kurang baik. Apalagi bagi saya topik yang dijadikan masalah juga sebenarnya bukan topik yang serius-serius amat, seperti pada kasusnya pak Budi. Jadi sebenarnya agak kurang baik Pak Budi menumpahkan kekesalannya di depan umum, padahal dia bisa saja menyampaikannya melalui email ke ybs. Tapi saya lebih melihat ini sebagai suatu hal yang memang sangat mengganggu harga diri pak Budi, dan dia rasa perlu untuk menunjukkannya pada publik untuk tetap menjaga harga dirinya. But well saya sendiri memang tidak terlalu mengenal pak Budi selain dari tulisan-tulisan yang sering saya baca. Saya sendiri juga memang jarang komentar di blognya beliau.
Berkaitan dengan mas Priyadi, saya ngga tahu bagaimana sebenarnya reaksi di balik balasan komen-komen mas Priyadi. Bila saya perhatikan tak jarang komentar pedas yang berujung penyerangan personal pada Priyadi. Selalu ditanggapinya dengan saya tidak emosi kok dengan icon smiley, atau langsung memberikan referensi artikel mengenai tehnik berdebat pada wikipedia
. Melihat tanggapan ini tersebut memang mengesankan Priyadi masih cukup tangguh. Saya memang pernah menyerang Priyadi, dengan komentar saya pada postingan Bedah Sistem MLM. Tetapi saya tidak tahu apakah penyerangannya bisa dikategorikan penyerangan personal, tetapi saya memang tidak bermaksud demikian. Pada topik yang banyak saya komentari yaitu pada ilusi finansial, saya berusaha melakukan debat yang lebih sehat. Tujuannya tak lebih menyampaikan unek-unek yang pada intinya memang bersebrangan dengan apa yang beliau tulis. Karena membaca sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangan saya, cukup membuat saya ‘gatal’ untuk menyampaikan pandangan saya. Untuk membuat beliau berpikiran sama dengan saya ya jelas tak mungkin, karena memang sudut pandang kita berbeda. Satu hal bila dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda memang sulit untuk disamakan, tapi itu menunjukkan banyaknya perbedaan di dunia ini.
Indepedensi blog dan independensi komen harusnya merupakan 2 hal yang harus dihormati. Perbedaan tak bisa dihindari, tergantung bagaimana masing-masing pihak menyikapinya. Sesuatu yang dianggap benar oleh seorang penulis, dan dianggap salah oleh orang lain, memang bisa saja membuat harga diri penulis terganggu. Dan jelas hal ini harus ditanggapi dengan sebijaksana mungkin. Pernah juga baca komentar yang menyebutkan bila tidak berkenan kenapa tidak di delete saja komentar tersebut. Tapi menurut saya, komentar yang tak baik memang bisa saja di delete oleh empunya blog, tetapi selain bila itu merupakan spam, atau sesuatu yang sangat luar biasa, apa bedanya itu dengan pen-’kebiri-an informasi.
bung handi..
sebagai penulis blog, bagaimana menurut anda jika penulis menuliskan sesuatu di blognya tanpa pemahaman yg baik dan benar akan objek tulisannya?
memang.. blog adalah curahan pikiran si penulisnya..
tapi..banyak yg dapat membacanya.
terpikirkankah akan ada banyak orang yg dapat terpengaruh?
masih banyak orang yg meng-iya-kan sesuatu tanpa pertimbangan yg masak..
melihat dengan benar saja belum bisa..apalagi menilai dengan benar..
dan seperti sudah diketahui bersama..kebanyakan orang kita masih memandang ‘siapa’ daripada ‘apa’..dan parahnya lagi ada dogma ‘yg benar adalah apa yg umum (banyak dilakukan)’..
semoga anda, saya, kita dapat melihat dengan benar..
oiya..
ada perbedaan loh, antara ‘tangguh’ dan ‘bebal’..
(jadi ingat istilah ‘writer’s block’.. semoga anda tidak terkena)
lagipula yg dibutuhkan oleh seorang pembaca blogger bukanlah ke’tangguh’an si penulis..melainkan tulisan yg menarik yg berangkat dari pemahaman yg mendalam dan visi yg benar dan luas..
terlebih jika objek tulisannya adalah sesuatu yg cukup berat..
Bung Gubay, sebenarnya sah-sah aja seorang penulis menulis apapun di blognya. Seorang penulis jelas selalu menilai tulisannya sendiri benar adanya, dan hanya orang lain yang menilai apakah tulisan itu benar atau tidak.
Saya yakin sebagian besar penulis blog menulis dengan tujuan dibaca oleh orang lain. Terpisah dari berapa banyak pengunjung atau pembacanya. Tetapi semakin besar banyak pengunjungnya semakin besar pula kemungkinan terbentuknya semacam opini publik dari isi tulisannya. Tapi itu juga tergantung dari isi tulisannya sendiri, bila isi tulisannya memang sesuai dengan harapan sebagian besar pembacanya ya jelas isi tulisan tersebut jadi semakin dikuatkan.
Menulis sesuatu yang serius pasti memiliki agenda untuk mengajak pembacanya mengikuti pola pikir penulis. Penilaian mengenai pemahaman yang mendalam dari isi tulisannya sendiri ya susah juga karena setiap orang mempunyai pemahaman yang berbeda soal pemahaman itu sendiri. Karena memang di dunia ini tidak ada yang satu suara.
Wajar selalu ada pro dan kontra dalam suatu tulisan. Mempertahankan isi tulisan jelas merupakan suatu yang wajib, karena itu juga mempengaruhi integritas tulisan tsb dan terutama juga penulisnya sendiri. Sekarang tinggal apakah seorang penulis mau mengerti sudut pandang yang lain, dan dengan bijak menilainya tanpa melecehkannya. Itu sih kembali pada sifat atau personality dari si penulis itu sendiri.
“Seorang penulis jelas selalu menilai tulisannya sendiri benar adanya”
apalagi kalau ada pernyataan dari si penulis: “pendapat lainnya sama sekali tidak penting dan tidak relevan”..
yah..saya cuma bisa mendoakan..semoga dibuka dan dijernihkan hati dan pikirannya..
“Tetapi semakin besar banyak pengunjungnya semakin besar pula kemungkinan terbentuknya semacam opini publik dari isi tulisannya.Tapi itu juga tergantung dari isi tulisannya sendiri, bila isi tulisannya memang sesuai dengan harapan sebagian besar pembacanya ya jelas isi tulisan tersebut jadi semakin dikuatkan.”
ini yg dikhawatirkan.. -mengingat kondisi masyarakat kita-
ada yg pernah bilang kalau di indonesia itu iconnya lebih tepat ‘burung beo gigit bom’..bukan burung garuda..
keep writing objectively..wisely..
my salute to you..