Tentang Bisnis MLM

Setelah mengikuti debat mengenai MLM di blognya mas Priyadi, seru juga perdebatan di situ. Saya juga mau sumbang pikiran mengenai MLM. Posting di bawah ini merupakan salinan komentar saya di blog mas Priyadi.

MLM yang benar, menurut saya lho, murni sebuah bisnis. Sistemnya yang digunakan ngga jauh kok dengan bisnis konvensional. Ada produsen, grosir, pengecer, konsumen. Kalo diberi gambaran ya seperti ini, konsumen ya konsumen pengguna produk yang bukan member, pengecer ya downline di tingkat paling bawah, baik yang aktif jualan atau tidak dan juga pengguna produk atau downline yang ngga bisa jualan atau ngga bisa merekrut, Grosir ya para distributor aktif yang memiliki downline, Produsen ya perusahaan MLM nya. Produk dari MLM umumnya produk yang eksklusif dan sulit untuk dipasarkan dengan melalui jalur konvensional. Karena sulit, maka produk tersebut perlu dijual secara lebih personal atau dari mulut ke mulut maka dibentuklah sistem insentif untuk para grosir dan pengecer yang disebut sebagai MLM, mulai dengan keuntungan persentase kecil, hingga besar, insentif perjalanan ke luar negeri gratis, mobil, dan lain-lain. Sebenarnya sama saja kok dengan yang konvensional. That simple, ga ada yang salah kok dengan sistem MLM. Masalahnya hanya pada sulitnya menjual produk yang tidak ada di pasaran, dan tanggapan yang negatif dari orang-orang terhadap MLM. Distributor MLM adalah sebuah profesi atau pekerjaan, sama dengan pedagang, maka itu distributor MLM sering juga disebut sebaga IBO (independent bussiness owner). Bedanya pedagang konvensional kalo buka usaha harus pake SIUP, distributor MLM ngga usah. Di MLM, para distributor yang serius diberi bekal dengan serangakaian training (yang biasanya atas biaya si distributor sendiri), dalam training, seperti training-training lainnya, mereka melalui proses ‘brain wash’ yang berarti kita harus tahu produk dan bagaimana bisnis tentunya mencintainya sampai mati. Ada juga penghargaan untuk distributor terbaik, sama seperti pekerjaan atau bisnis lainnya.

Perbedaan mendasar antara bisnis konvensional dan MLM adalah dalam keterikatan jaringan, dalam konvensional saya bebas memilih supplier atau grosir untuk produk yang sama. Bila supplier A menawarkan harga distributor yang lebih baik dari B, jelas saya akan memilih A, bahkan untuk menjadi grosir seperti A saya tidak tergantung dari A, saya bisa minta supplier dari A, untuk memberikan harga yang dia berikan pada si A, karena saya mampu memberikan omzet pada dia sama atau lebih besar dari si A, dan ini jelas tidak akan menguntungkan bagi si A.Pada MLM, hal tersebut tidak bisa dilakukan karena kita terikat pada jaringan yang sudah diprogram oleh produsen.
Setiap pekerjaan atau profesi harus dijalankan dengan hati, bila hati kita senang dalam menjalankan profesi tentunya usaha kita sukses. Itu berlaku untuk semua orang, bila seorang programmer di suruh bekerja sebagai seorang sekretaris misalnya. Walaupun dia bisa, tapi dijamin ngga akan baik, walaupun dia telah melakukan serangakain training untuk menjadi seorang sekretaris yang handal tapi kalo hati dia ngga ada disitu yang percuma, karena dia lebih suka bekerja sebagai programmer. Sama juga dengan distributor MLM, yang cocok tentunya akan mencitai pekerjaannya sampai mati, sampai berbusa-busa untuk menawarkan produk dan peluang bisnisnya, ditolak pun semangatnya ngga akan kendur, itu semua karena hatinya memang disitu. Seorang distributor MLM yang baik memang harus begitu, kalau tidak begitu dijamin tidak akan sukses. Ada juga orang yang memang tidak cocok untuk menjadi distributor MLM, tapi kalau tidak dicoba orang tersebut ya tidak akan tahu kalo dia memang bisa.
Saya sendiri seorang pedagang konvensional dan juga seorang distributor MLM. Saya pernah menjalani bisnis MLM tersebut tapi saya merasa hati saya tidak disitu, tapi setidaknya saya pernah mencoba. Jadi saya memilih untuk hanya sebagai pengguna produknya saja, karena saya suka dengan produknya. Saya salut untuk orang-orang yang sukses menjalani bisnis MLM karena memang menjalani bisnis ini memang sulit.
Semoga semua orang dapat open minded terhadap bisnis ini karena ini memang bisnis murni cuma bumbunya saja berbeda. Ga usah nyalahin para distributor MLM yang keukeuh mati-matian menawarkan dan juga membela sistem bisnis ini karena memang harus begitu kalo ingin sukses menjalani bisnis itu. Tapi para distributor juga harus sedikit lebih toleran terhadap orang yang keukeuh menolak sistem MLM, karena memang ga semua orang itu cocok dengan bisnis seperti ini.

14 thoughts on “Tentang Bisnis MLM

  1. halo mas handy.. sedikit komen aja ya dari

    “karena memang ga semua orang itu cocok dengan bisnis seperti ini.”

    lebih tepatnya …. karena memang ga semua orang itu cocok dengan setiap bisnis + setiap pekerjaan

    perbedaan adalah keseimbangan…
    karena perbedaan maka ada balancing di dunia ini…

    gak mungkin semua orang jadi distributor MLM,
    gak mungkin juga semua orang jadi karyawan,
    gak mungkin juga semua orang jadi pedagang,..
    gak dan gak….

  2. Bila melihat tulisan-tulisan anda mengenai Tiens, saya sependapat bila fokus kebanyakan IBO di Tiens bukan pada bisnisnya melainkan pada bonusnya. Byk rekan-rekan saya yg juga membabi buta mengejar BMW / Mercy di Tiens bukan jualan produknya. Saya juga pernah melihat marketing plannya Tiens, dan saya sendiri memang kurang sreg melihatnya karena memang banyak kejanggalan.

  3. mas handi bleh tau apa kejanggalan yg ada pd marketing pln TIENS?bknya lbh bk dibandingkan sama MLM yg Lain,tiap bln mesti tutup poin yg besar sedangkan bonusnya kecil

  4. #5: yg saya lihat, kejanggalannya justru di sana, yaitu tidak adanya target tutup poin bulanan atau periode tertentu. Karena dengan demikian perputaran uangnya menjadi tidak jelas, bila pada MLM dengan sistem tutup poin, perputaran uangnya cukup jelas, ke mana saja porsi untuk komisi dari harga produk.

  5. That simple, ga ada yang salah kok dengan sistem MLM. Masalahnya hanya pada sulitnya menjual produk yang tidak ada di pasaran, dan tanggapan yang negatif dari orang-orang terhadap MLM.

    >> Satuju Pisan Euy…
    >> tapi tidak sulit menjual produk MLM jika…
    >> produknya bermanfaat dan harga pantas
    >> dan ada buktinya, contoh…
    >> sudah banyak yang bersaksi di majalah TRUBUS
    >> tentang manfaat produk tersebut
    >> untuk 2 tahun terakhir…

    >> tentang tanggapan negatif org tentang MLM
    >> itu karena fokus MLM biasanya pada mimpi
    >> seharusnya pada Manfaat Produk,
    >> sehingga tidak ada yang dirugikan,
    >> ada uang ada barang… seperti bisnis konvensional aja

    >> walaupun….
    >> sulit merubah paradigma berpikir seseorang
    >> Seperti yang di tulis oleh: Harvard Business Review:
    >> Fundamental (Thingking) change is MOST
    >> resisted by peoples… Thus leading change is essential
    >> and incridibly difficult…

    Di MLM, para distributor yang serius diberi bekal dengan serangakaian training (yang biasanya atas biaya si distributor sendiri), dalam training, seperti training-training lainnya, mereka melalui proses ‘brain wash’ yang berarti kita harus tahu produk dan bagaimana bisnis tentunya mencintainya sampai mati. Ada juga penghargaan untuk distributor terbaik, sama seperti pekerjaan atau bisnis lainnya.

    >> Satuju…
    >> fokus pada manfaat produk
    >> jangan pada mimpi ( baca : sistem )
    >> mimpi hanyalah daya penggerak aja
    >> sudah mimpi harus bangun
    >> untuk mendapatkan penghasilan tak terbatas

    Ga usah nyalahin para distributor MLM yang keukeuh mati-matian menawarkan dan juga membela sistem bisnis ini karena memang harus begitu kalo ingin sukses menjalani bisnis itu. Tapi para distributor juga harus sedikit lebih toleran terhadap orang yang keukeuh menolak sistem MLM, karena memang ga semua orang itu cocok dengan bisnis seperti ini.

    >> Satuju
    >> Distributor MLM jangan jualan mimpi
    >> harus Jualan produk
    >> karena bisnis baru jalan jika ada penjualan
    >> penjualan lancar jika produk bermanfaat
    >> jadi produk laku, bukan ditimbun euy…

    >> Tararengkyu…

  6. Hei semua

    Saya hanya mau sharing saja sama Anda semua. Buat apa sich Anda pada debatin sebuah konsep bisnis. Emangnya Anda sudah pada kaya raya dan sejahtera seperti golongan manusia 2%. Kalo Anda masih susah bayar listrik, pusing mikirin biaya bulanan, dan yg berhubungan dg masalah finansial,gak usahlah berdebat.

    Bangsa ini butuh orang2 yang handal dalam dunia bisnis dan bisa menyerap tenaga kerja lebih dari 40 juta org. BUKANNYA org2 spt Anda yang bisanya DEBAT saja.

    Hutang Indonesia itu besar lebih dari Rp 1000 Triliun dan itu harus dilunasi dengan segera !!!!

    Salam Hormat

  7. Selamat dan sukses untuk anda yang sudah berhasil di MLM bagi rekan yang belum berhasil dpt ikut di sini biaya kursusnya hanya 380.000 saja. Lakukan hal ini Promosi dan Penjualan dalam sebulan dan dapatkan income 2x setiap minggu tanpa syarat. Dapatkan Info lanjut sulaiman 021-91763077

  8. 1. MLM membuat orang menjadi membabi buta mencari2 downline… meminta2 dan mengemis2… :(

    2. mimpi terusssssss dgn imingan2 yg super tinggi

    3. menjadikan atau menciptakan sistem piramida alias “yang kaya semakin kaya dan yg miskin semakin miskin”.

  9. Masalah konsep bisnis MLM itu tergantung Perusahan masing 2X klo anda tidak setuju dgn bisnis mlm tidak usah ikuti. Anda debat juga percuma, khan tidak ada untungnya buat anda. Lihat orang yg menggeluti MLM semua punya motivasi, impian yg membuat mereka berani baik sukses maupun gagal. sementara anda yang cuma tau debat apa yang anda bisa?///???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>